Anonim
  • WpView
    Reads 1,025
  • WpVote
    Votes 63
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jan 3, 2016
Bahwa satu peluru dapat mengakhiri sebuah perang. Serangkaian keputusan yang terjadi di belakangnya dan satu keputusan dari dirinya mengubah hidupnya untuk selamanya. Apapun yang terjadi, hanya serangkaian kejadian yang diingat dari dirinya dan kawan-kawan yang menemaninya. Bukan nama mereka, bukan siapa mereka. Mungkin jikalau ada yang diingat dari dirinya, seorang pahlawan yang mengubah negara menjadi lebih baik, ataupun lebih buruk. Mencatat bahwa dirinya berada di medan perang, tanpa menyadari ratusan dari serpihan jiwanya bertempur dalam suatu perang yang tak akan pernah dicatat dalam buku sejarah. Mengubah dirinya dari sesorang yang merasa tahu akan kerasnya dunia, menjadi seorang yang merasa tak tahu akan kerasnya dunia. Sejarah tak mencatat perang itu. Tak mencatat bahwa ia hanyalah seorang anak manusia, manusia, seorang lelaki. Dan Seorang Anonim.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Syal Merah
  • story of palestine(SOP)
  • ASRAR [TERBIT]
  • Feral Strike
  • PURGATORI ARNOLD: KEABADIAN DALAM SIKSAAN
  • Sihir Sang Pangeran-CH【𝐄𝐍𝐃】
  • Find My Way [Attack On Titan X Reader]
  • My Duchess / End
  • RESURGERE: The Andalas Of Nusan [CH]

Lihatlah manusia.... makhluk berakal, katanya, tapi berakal hanya untuk merancang kehancuran dengan cara yang lebih efisien dari iblis manapun. Mereka lahir dengan tangan kosong, namun tumbuh dengan jemari yang tak pernah cukup menggenggam. Satu takhta tak cukup, satu negeri terlalu sempit, satu nyawa tak sebanding dengan harga ambisi. Mereka mencipta Tuhan dari kaca dan bayangan, lalu menjadikannya alasan untuk menyalakan api di rumah sesamanya. Lalu, ketika tubuh hangus terbakar, mereka berkata: "Ini takdir, ini suci." Padahal semua hanya siasat licik, untuk menjarah lebih banyak, menguasai lebih dalam. Di medan perang, tidak ada musuh sejati, hanya cermin-cermin retak yang saling menuduh bayangan masing-masing sebagai setan. Manusia menanam senyum di bibir diplomasi, sementara tangannya menandatangani pengiriman peluru ke tempat di mana anak-anak belajar menyebut "ayah". Dan ketika tanah itu retak oleh ledakan, dan langit pun tak sudi menurunkan hujan, mereka berkumpul di ruang rapat ber-AC, membahas damai yang bisa dijual dengan harga saham. Oh, manusia bukan makhluk sosial- mereka makhluk serigala yang diajari mengenakan jas. Mereka berdiri di atas kuburan sambil berkata: "Semua demi kemajuan." Apa makna "maju", jika harus melangkahi mayat? Apa artinya "kebebasan", jika harus dipaksa dengan moncong senjata? Mereka mencipta kata-kata indah- "perjuangan", "nasionalisme", "pengorbanan", tapi semuanya hanya selimut untuk menutupi nafsu kekuasaan yang menjijikkan. Sejatinya, manusia mencintai kehancuran- sebab di puing-puing itu, mereka bisa membangun kerajaan atas nama harapan, padahal fondasinya dari daging dan darah. Tak ada yang suci dalam perang. Tak ada yang heroik dalam membunuh. Yang ada hanyalah manusia- yang selalu lapar, selalu haus, selalu ingin menjadi Tuhan tanpa pernah bisa menjadi manusia,.

More details
WpActionLinkContent Guidelines