Dedaunan yang Gugur [END]

Dedaunan yang Gugur [END]

  • WpView
    Reads 18,827
  • WpVote
    Votes 1,380
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadComplete Sun, Nov 22, 2015
Ambarawa, 1943 Sastro, Andai kau tahu, betapa besar rasa bersalah mengiris-iris hatiku, membuatku menangis darah setiap kali berusaha menggenggam bayangmu. Meski kaubilang, cinta yang sejati bukanlah cinta yang harus memiliki, melainkan cinta yang abadi, tetaplah diriku didera rasa bersalah karena telah menyakitimu. Hanyalah surat yang takkan pernah terkirim ini, pralambang jeritan hatiku. Andai kautahu, bahwa di sini, detak jantungku masih melagukan indah namamu. -Hertha Lodewijk-
All Rights Reserved
#6
justwriteit
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Cinta dan Takdir Rania [End]
  • Lintang Di Langit Majapahit [END]
  • BYE, MANTAN! (TAMAT)
  • JESSALEO
  • HIJRAH UNTUKMU
  • Padukasori
  • Almost Over You
  • RECYCLE HEART
  • Symphonya: Bloemen Vallen [END]
  • PITALOKA | Sekala Ruang Renjana

❝Keputusan berat yang harus aku ambil, demi menjagaku juga menjagamu adalah menjauhimu. Bukan karena benci, tapi karena aku mencintaimu. Semata agar kau dan aku tidak terjerumus dalam syahwat yang hina.❞ Begitulah kutipan tulisan yang aku tulis dan kutujukan untuk seseorang, cinta pertamaku. Assalamu'alaikum ... aku Rania Andinadya. Jika kamu bertanya kisah ini mengisahkan tentang apa ... ini tentang perjalananku dalam menemukan hingga harus belajar mengikhlaskan cinta pertamaku. Aku, begitu mencintai dia. Namun anehnya, aku sama sekali tidak pernah berani mengungkapkan perasaanku padanya. Sampai suatu masa, ketika cintaku mulai terbalaskan, hidayah-Nya perlahan-lahan mengetuk pintu hatiku. Aku pun menyadari, aku dan dia tidak seharusnya sering berinteraksi, demi menghindari syahwat yang hina. Meski telah berhijrah, cintaku kepadanya masih sama. Dalam diam, aku tetap mencintai dan mendo'akan kebaikan untuknya. Tapi, siapa sangka takdir malah berkata lain. Setelah menjauhinya sebab cinta, ia telah menemukan pujaan hatinya. Lantas aku berusaha mengikhlaskan, meskipun ikhlas adalah suatu hal yang teramat pelik. Dan satu pertanyaan terus mengusik pikiranku ... mampukah aku mengikhlaskannya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines