Surat Kecil Vikaa

Surat Kecil Vikaa

  • WpView
    Reads 1,897
  • WpVote
    Votes 60
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Nov 14, 2015
WpInfo
Fiction
Romance
Dulu saat dia berumur 8 tahun Vikaa sangat suka menulis surat tentang apapun yang tengah ia alami. Surat - surat itu tersimpan rapi di rumah kakek nya di Semarang. Namun saat dimana umurnya 10 tahun, surat itu menghilang didalam kardus mie. Vikaa masih mengingat bentuk surat itu. Tanpa amplop hanya sebuah secarik kertas dengan isi kertas penuh dengan tulisan nya yang besar dan acak-acakkan. Vikaa pikir kakekknya membuang surat itu dan dia tidak terlalu khawatir jika seseorang akan membaanya. Kegiatan yang suka menulis di secarik kertas itu selalu dilakukanya sampai sekarang.
All Rights Reserved
#27
vika
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • It's True Love With Ketos
  • [END] AKHIR YANG TAK SAMA
  • Toxic Love
  • ALZEA
  • Wound's Strengthen Oneself (Not Continued)
  • About a Diandra Story
  • DIARY DAN DARA (√)
  • DISA | broken

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines