Menggapai Pelangi

Menggapai Pelangi

  • WpView
    Reads 319
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jun 23, 2013
Miskin, kumuh, kumal. Itulah kehidupanku, sangat jauh dari kata mewah. Seorang gadis pinggiran kota Indramayu, anak dari sepasang buruh tani, yang penghasilannya tidak seberapa, namun cukup untuk makan sehari-hari. Terkadang aku sedih, gadis seusiaku yang seharusnya masih sibuk berkutat dengan pelajaran-pelajaran sekolah, malah sibuk bekerja menjadi buruh cuci tetangga-tetangga. Aku dapat berbuat apa? Dapat menamatkan pendidikan SMP pun sudah sangat beruntung walau dengan bantuan beasiswa. Sebenarnya aku masih mendapat beasiswa untuk melanjutkan sekolahku ke SMA, namun mahalnya baju seragam dan buku-buku pelajaran membuatku memutuskan untuk tidak menerimanya. Adikku Lina pun bersekolah dengan bantuan beasiswa, kalau bukan mana mampu Ayah dan Ibu menyekolahkannya. Meskipun keadaan kami mengenaskan, namun kami selalu hidup dengan rukun dan bahagia. Orang tuaku selalu mengajarkan kami untuk selalu bersyukur pada apapun nikmat Allah yang Ia berikan kepada kami.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Embun Pagi
  • Don't Talk About Money
  • ALEYA~~
  • ANNISA {ON GOING}
  • ALVIN (On Going)
  • "PERJUANGAN CINTA BEDA AGAMA"
  • Arah Yang Selaras Lagi Berpelangi
  • Ayesha Transmigration
  • My Duchess / End
  • ALLAND

Namaku Anahita Embun Prasetyo, aku hidup dalam keluarga kurang mampu yang memiliki seorang ayah penerima jasa antar jemput cuci kendaraan dan seorang ibu rumah tangga yang sangat penyayang. diusiaku yang masih menginjak 12tahun aku dituntut untuk mandiri dalam segala hal. tidak seperti selayaknya anak berusia belasan tahun yang masih memiliki kesempatan bermain dan bermanja-manja. bahkan aku terkadang merasa iri melihat teman-temanku yang bisa bermain dan terpenuhi keinginannya, seperti memiliki sepedah, boneka, dan peralatah sekolah yang layak. sedangkan aku yang setiap harinya sepulang sekolah selalu membantu ibu menjajakan kue nya keliling kota. aku yang menginginkan sesuatu harus dengan bekerja dahulu sebelum mendapatkannya terkadang merasa dunia ini sangat tidak adil, terkadang aku berfikir kenapa semua ini terjadi kepadaku, kenapa hanya keluargaku yang tuhan hukum atas kemiskinan. tapi walau begitu aku tidak pernah ingin berputus asa, karena ibu selalu berkata jika kita ikhlas dengan cobaan yang tuhan berikan maka sedikit banyak masalah yang kita hadapi pasti akan ada jalan keluarnya, rezeki dan nasib seseorang sudah diatur sedemikian rupa oleh tuhan. dimana kita yakin bahwa suatu saat akan ada masanya kita menjadi orang sukses dan menjadi orang yang beruntung. setiap kalimat yang ibukku katakan aku jadikan sebagai motivasi diriku agar kelak aku dapat menjadi orang yang berhasil dan membahagiakan mereka. meskipun sekarang banyak sekali cacian dan makian orang yang selalu merendahkan kami, tapi aku tetap berteguh pada tekadku untuk mengejar cita-citaku. aku ingin sekali menjadi seorang penulis karya yang dikenal banyak orang dan sukses, aku ingin dari hasil kerja kerasku mampu mengangkat derajat keluarga kami agar tidak ada lagi yang menghina dan merendahkan kami.

More details
WpActionLinkContent Guidelines