W(A)ITING [ON EDITING]

W(A)ITING [ON EDITING]

  • WpView
    Reads 12,703
  • WpVote
    Votes 294
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Dec 12, 2021
Hanya segelintir kisah penantian selama ini. Sedikit demi sedikit, hari demi hari, dirangkai menjadi satu. Rindu membelenggu, akan hadirmu. Empat tahun berpisah, dan kini kamu kembali, merubah status kita. Menjadi lebih jelas. Lalu kemudian, kau lebih memperjelas lagi status kita, namun sialnya, apakah harus selalu ada perpisahan?
All Rights Reserved
#222
jodoh
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Spring House
  • Dear Kamu
  • Candala [2]
  • SMARA DIKTA
  • GRIZLEN {On Going}
  • BETWEEN
  • Setia Di Hati (Selesai)
  • ANATHAN  || END

Judul sebelumnya "Your Promise" update menjadi "Spring House" *** "Mari bertemu lagi, empat tahun yang akan datang di musim semi. Kamu, kembalilah ke Indonesia, dan aku juga akan kembali ke tempatku seharusnya. Aku berjanji tempat ini akan menjadi saksi dari awal kebahagiaan kita," ~Akash. "Ikatan ini, akan aku jaga agar tidak terputus. Kuharap kau pun memegangnya erat di negeri seberang. Empat tahun lagi, tetaplah jadi rumah untuk ku dan tolong untuk tidak menutup pintu rumah itu sampai aku datang," ~Hilya. *** Afifah Hilya Nafisah, perempuan 28 tahun yang terjebak dengan janji masalalu. Janji yang sudah delapan tahun lamanya dia tunggu untuk ditepati, oleh seorang lelaki yang garis wajahnya tak pernah bisa dia lupakan. Setiap musim semi dia terus membuka ulang kenangan sesaat yang terlampau mengesankan baginya, berharap semua kenangan itu tidak berakhir menyedihkan di penungguannya. Namun saat akhirnya dia kembali bertemu dengan sosok yang memberinya janji itu, dia sadar jika delapan tahunnya berakhir sia-sia seperti apa yang pernah sahabatnya katakan. "Janji itu tak seharusnya keluar dari mulutmu, kau pembohong. Seharusnya aku tak menunggumu sedemikian lama, seharusnya aku tak berharap lebih dengan melewati malam dingin di musim semi demi dirimu, dan seharusnya mungkin kita tak perlu bertemu di kehidupan ini." Seumur hidupnya, hanya sosok itu yang berhasil mengetuk pintu hatinya dengan ketulusan tuturnya. Hilya mencintainya delapan tahun yang lalu, dan tetap mencintainya hingga hari ini. Namun di tahun ke delapannya itu dia sadar, bahwa lelaki itu mungkin bukan hanya menjadi cinta pertamanya, tapi juga menjadi luka pertamanya karena cinta. **** JANGAN LUPA FOLLOW VOTE DAN KOMEN NYA DITUNGGU

More details
WpActionLinkContent Guidelines