Zahra and about his memories

Zahra and about his memories

  • WpView
    Reads 376
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Dec 3, 2015
WpInfo
Fiction
Romance
Prolog " Sudah aku katakan, aku akan kembali." " Semudah itu kah kau bicara?" " Kau masih punya bokong terindah." " Jangan alihkan pembicaraan." Ada yang membangunkan naluri. Bahkan menikmati setiap bibir yang menyapu lehernya. Bergidik geli. Zahra berbalik mencoba menahan laki-laki bertubuh maskulin ini semakin menguasinya. " Menjauhlah," Zahra mendorong tubuh laki-laki itu keras. Vas di meja pecah jatuh ke lantai. " Ayolah, Ra! Sudah lama sekali Ra. Aku hanya ingin memperkenalkan kembali. Mulailah dari awal." " No!!! easier said!" " Come on, baby." " Jangan pernah lagi menyentuhkan jarimu padaku. Kau sudah kehilangan hak untuk menyentuhku." " Tidak! Jika kau masih mencintaiku." Napas hangatnya kembali membelai leher. " Heh, Imposible." " Aku tahu kamu bohong." " Tidak!!" " Berani menatapku?" " Buat apa?" " Tidak berani? Takut jatuh cinta? Ya, kau memang masih mencintaiku." " Jangan mengada-ngada." " Tatap aku, Zahra." Akhirnya Zahra memberanikan diri menatap laki-laki itu. Detak jantungnya bergema di kerongkongan. Dia tak lagi kuat. Menyerah. Ia jatuh cinta. Jatuh cinta lagi.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Amor Eterno
  • tentang sebuah rasa
  • Soal Rasa 2
  • GRIZLEN {On Going}
  • GADIS CANTIK
  • MEISYA
  • Males, ribet.
  • DANADYAKSA
  • Wrong Dream

"Lo mau hubungan kita jadi kayak apa, Harlen?" Qila menghentakkan tangan pria itu, lalu menoleh cepat dengan sorot mata tajam. Suaranya bergetar-bukan karena takut, tapi karena menahan amarah yang sudah terlalu lama disimpan. "Aku... aku pengin hubungan kita jadi lebih serius," jawab Harlen pelan, nadanya seperti memohon. "Serius?" Qila tertawa miris. "Serius kayak gimana? Kayak lo yang tiba-tiba udah punya tunangan tanpa bilang apa-apa ke gue?" Harlen terdiam, tak sanggup membalas. "Atau lo mau gue jadi simpanan, gitu? Tapi sayangnya, Harlen, gue bukan cewek murahan kayak gitu," lanjut Qila sambil memutar bola matanya, malas sekali menatap wajah pria di hadapannya. "Bukan gitu maksud gue..." Harlen mencoba meraih tangan Qila lagi, tapi kali ini pun langsung ditepis. "Gue capek dengar omongan lo yang manis-manis tapi ujung-ujungnya nyakitin. Lo bilang pengin serius? Lo bilang pengin perkenalin gue ke orang tua lo? Please, Harlen. Udah telat." "Qila, tolong dengerin dulu..." "Cukup." Qila menarik napas dalam-dalam, menahan emosi yang hampir meledak. "Ini terakhir kalinya kita ketemu. Setelah ini, gak akan ada lagi 'kita'. Gak sengaja ketemu pun, gue harap itu gak akan pernah kejadian. Gue muak liat muka lo." Langkahnya cepat, pergi meninggalkan Harlen yang masih berdiri mematung di tempat. Tapi Harlen belum menyerah. "Qila! Tunggu, dengerin dulu!" Namun Qila tetap berjalan, masuk ke dalam taksi yang sudah menunggunya di pinggir jalan. "Jalan, Pak," ucapnya pada sopir. Taksi pun mulai melaju. Dari kaca belakang, bayangan Harlen terlihat masih mengejarnya, berteriak, memanggil namanya. "QILAAAA!" Tapi Qila tak menoleh. Tatapannya lurus ke depan, seolah tak ada apa pun di belakang yang layak dilihat kembali. Dalam hati, ia berbisik, Maaf, Harlen... tapi kali ini aku benar-benar udah gak sanggup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines