Story cover for Sunrise by yahya1030
Sunrise
  • WpView
    MGA BUMASA 49
  • WpVote
    Mga Boto 4
  • WpPart
    Mga Parte 1
  • WpView
    MGA BUMASA 49
  • WpVote
    Mga Boto 4
  • WpPart
    Mga Parte 1
Ongoing, Unang na-publish Dec 04, 2015
Mature
Malam, 
Malam itu gelap dan sunyi, kadang saat malam gua hanya bisa menikmati tanda tanya demi tanda tanya tentang terang. 
Kadang terasa dingin ketika dampak di ujung malam, angin yang berhembus menemani seolah hanya membuat perih untuk kemudian hari. 

Sunyi yang di pijaki hanya membuat semakin rindu tentang ramai di hari itu. 

Kadang gua lelah dengan segelintir gelisah di penghujung malam. 

Tapi gua percaya satu hal, pasti ada sebuah hanggat saat matahari terbit. Akan ada harapan baru yang muncul membayar sepi. 

Akan ada sebuah bahagia setelah ini .
All Rights Reserved
Table of contents

1 parte

Sign up to add Sunrise to your library and receive updates
o
Mga Alituntunin ng Nilalaman
Magugustuhan mo rin ang
Pertemanan di balik Kutukan [On Going] ni AYA_MNK
28 parte Ongoing
🥀Cerita ini 100% karangan dari saya sendiri jadi mohon di hargain, jika memang tidak suka maka tidak usah di baca dan jika suka jangan lupa beri vote dan komen yaksss!!! ⚠️ INGAT DI LARANG PLAGIAT, COPY PASTE, MENIRU, MENJIPLAK, ATAU SEJENIS NYA. DON'T! Saya mungkin tidak tahu tapi allah tahu. Rintik hujan perlahan jatuh dari langit kelabu, tetesannya menimpa tanah kering dan retak, menciptakan lingkaran-lingkaran kecil yang segera lenyap bersama debu. Namun tak lama, langit seolah tak sanggup lagi menahan kesedihannya. Hujan turun semakin deras, membasahi tubuh seorang gadis yang berdiri diam di tengah kehancuran. Luka menganga di hampir seluruh kulitnya, darah mengalir perlahan, menyatu dengan air hujan yang mengalir di tanah. Namun ia tetap tak bergerak. Pandangannya kosong, tatapan hampa tanpa harapan, seolah jiwanya telah pergi jauh meninggalkan raganya yang lelah. Di sekelilingnya, dunia yang dulu penuh kehidupan kini tinggal puing dan arang. Tanah yang dulu dihiasi hamparan rerumputan hijau telah terbakar hingga hitam dan tandus. Pohon-pohon yang dulunya menjulang kokoh kini rebah, patah, dan hangus, tak menyisakan satupun daun yang selamat. Segala yang dulu indah, kini lenyap tanpa jejak, tersapu oleh sesuatu yang lebih kejam dari waktu, kehancuran yang tak memberi ampun. "Aku menghancurkan semuanya ... Aku seorang monster!" bisiknya lirih, dan setetes air mata mulai mengalir keluar dari ujung matanya, tak bisa dibedakan apakah itu air hujan atau air penyesalan. "Aku menyakiti orang-orang, aku membunuh orang tak bersalah ... Aku benar-benar seorang monster!" Air matanya menetes, bercampur dengan darah dan hujan. Dan dari bibir pucatnya, hanya satu kalimat yang terus berulang kali dia ucapkan, seperti sebuah mantra penyesalan yang tak berujung. "Maaf ... maafkan aku ... maaf ...." Dibuat : Rabu/13/April/2022 Selesai : ??? Written by :AYA_MNK ©hak cipta dilindungi Allah SWT
Magugustuhan mo rin ang
Slide 1 of 8
Memories in Moon cover
𝗝𝗮𝗱𝗶 𝗞𝗶𝘁𝗮 𝗜𝗻𝗶 𝗔𝗽𝗮? (S1-S2); HEESUN BL LOKALᵀᴬᴹᴬᵀ cover
Storia D'amore del Caffé [PDF] cover
Pertemanan di balik Kutukan [On Going] cover
Tetangga | SOOKAI cover
Puja Puji Palsu cover
if tomorrow is dead,what would you do? cover
Dalam Bayangan Ketakutan: Kumpulan Kisah cover

Memories in Moon

13 parte Kumpleto

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?