Balloonmen

Balloonmen

  • WpView
    Reads 89
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Dec 4, 2015
Dunia nyata memang kejam. Tapi bukan berarti tak ada tempat berbahagia untuk orang-orang lemah sepertiku, kan ? Aku selalu tau, kemana aku harus pergi untuk merasakan terjun bebas tanpa ada rasa takut akan kehabisan uang atau terjadi suatu kecelakaan yang mematikan; namun tetap membuat adrenalinku terpacu. Hanya saja waktu terlahap begitu saja, karena suatu urusan kompleks yang tak kunjung selesai. Segala hal tentang sekitar selalu membuatku gelisah, tertawa, marah, dan merasa ironis karena aku sama saja dengan mereka; sama-sama manusia. Persetan dengan mereka, persetan denganku. Aku ingin ke tempat itu sesegera mungkin, menimbulkan apapun yang ingin aku ungkapkan. Aku harus, bagaimanapun itu caranya. Author: Hilman/Mamen Cover Artist: Regina Al-Ghania (@Kendrick25) [ note: -Ini pertama kali bikin cerita di Wattpad, jadi mohon kritik dan sarannya. Dan saya mohon untuk tidak menyalin/menjiplak dan sebagainya tanpa izin penulis. Sebelumnya, terimakasih :) ]
All Rights Reserved
#847
fiction
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Halaman Hidupku
  • Destiny Changing Action
  • Mysterious Girl
  • Way Of Life
  • Transmigrasi Aleciana [END]
  • Evanescent
  • figuran tranmigrasi (ON GOING)

patah mana yang tak kupulihkan sendiri, sakit mana yang belum pernah ku rasakan. Saat dunia menuntutku tegar tanpa memperdulikan bagaimana aku bertahan. Setiap luka selalu ku peluk dalam diam, sembari belajar mencintai diriku yang perlahan hancur. Mereka selalu melihat senyumku, tapi tak pernah tau pertempuran yang ku rahasiakan di balik hati dan pikiranku. Aku berjalan dengan hati yang lelah, namun tetap berdiri meski runtuh dalam sunyi. Aku menangis tanpa suara, meratap dalam jiwa yang hampir mati rasa. Bahkan nafas pun terasa sesak, seolah dunia tak memberiku kesempatan untuk sekedar tenang. Sebab kalau bukan diriku, siapa lagi yang memeluk hatiku sendiri, saat semua memilih pergi ketika aku paling membutuhkan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines