Story cover for storm by rayipertiwi
storm
  • WpView
    LECTURES 8
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parties 1
  • WpView
    LECTURES 8
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parties 1
En cours d'écriture, Publié initialement déc. 04, 2015
Suara piano menggelegar memenuhi ruang bercat putih disudut rumah yang seperti mati, tidak ada gelak tawa, tangisan, candaan, bentakan atau apapun yang bisa membuat rumah itu bernyawa hanya ada suara piano yang dimainkan namja berpakaian serba hitam. Tidak ada senandung yang keluar dari mulutnya yang seakan bisu, hanya jari-jarinya yang menari indah diatas tuts-tust piano yang memandangnya kelu. Namja itu tak menghiraukannya, dia tetap bermain dengan benda mati yang mengalunkan melodi indah. Lagu apa yang dimainkan pria itu? Tidak ada lagu yang dia mainkan, dia hanya menyeret tangan-tangannya menari mengikuti not not yang tercetak dihatinya. Namja itu menenggelamkan indah matanya dibalik kelopak, sedetik itupun bertubi-tubi perasaan menyesakkan menerjang, menghujam, menikam, dan mencabik semua organ yang Tuhan ciptakan untuknya tanpa rasa kasihan, tak memberikan cela secarcikpun untuk sekedar menghirup oksigen yang dia butuhkan. Sekelibat potongan-potongan klise terpampang diotaknya dan bergerak seperti film pendek yang mampu membuatnya berhenti untuk bernafas.
Tous Droits Réservés
Table des matières

1 chapitre

Inscrivez-vous pour ajouter storm à votre bibliothèque et recevoir les mises à jour
ou
Directives de Contenu
Vous aimerez aussi
Petikan Lingga, écrit par alergi_alergy
12 chapitres Terminé
Suara petikan gitar mengisi ruangan kecil itu, menggema lembut di antara dinding-dinding kosong. Lingga duduk bersila di lantai, memeluk gitar akustiknya seperti seorang sahabat lama yang selalu setia mendengar. Tangannya bergerak perlahan, memainkan melodi yang sederhana namun penuh makna. Mata Lingga terpejam, seakan mencari ketenangan di antara setiap nada yang ia mainkan. Hari itu, matahari menyelinap masuk melalui celah-celah jendela. Langit berwarna jingga keemasan, tanda bahwa senja sudah mulai memeluk hari. Lingga tahu bahwa waktu terus berjalan, namun ia merasa seolah detik-detik itu melambat saat ia tenggelam dalam musiknya. Di sudut ruangan, terletak sebuah foto kecil yang berdiri di atas meja kayu. Foto itu adalah potret dirinya bersama Nalendra-tertawa bersama di sebuah taman dengan cahaya matahari menerpa wajah mereka. Lingga melirik foto itu sejenak, senyumnya muncul tapi dengan berat, seakan ada sesuatu yang tertahan. Petikannya terhenti. Lingga menarik napas dalam-dalam, lalu menundukkan kepala, memandangi gitar di pangkuannya. "Len... gue nggak tahu kenapa gue selalu mainin lagu ini setiap kali gue mikirin lo," gumamnya lirih. Ia mengusap wajahnya, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang di matanya. Hening. Hanya ada suara angin yang meniup lembut tirai jendela. Lingga kembali menyandarkan punggungnya ke dinding, mencoba mengingat saat-saat ia dan Nalendra duduk bersama di tempat ini. Gitar yang kini di tangannya pernah dimainkan oleh Nalendra, bahkan melodi yang ia mainkan barusan adalah lagu yang sering mereka nyanyikan bersama. "Mungkin lo bener, Len," bisiknya pelan. "Hidup ini nggak selalu soal yang sempurna, tapi soal belajar menerima." Lingga tersenyum kecil, meskipun hatinya masih terasa berat.
Tanya Hati (Selesai), écrit par Flower_flo
22 chapitres Terminé
PROLOG Hening. Nyaris tidak terdengar suara apapun. Jalanan yang ku pijaki gelap. Suasana terlihat seperti dalam film-film horror. Aku menempelkan tanganku pada dinding disampingku. Namun, bukannya terasa dingin aku malah merasakan rasa panas yang menjalar seperti aku sedang memegang pemanggangan panas. Mungkin karena aku terlalu merasakan hawa horos saat ini. Aku mengedarkan pandangannku kesegala arah. Berharap menemukan seseorang yang mungkin bisa membantuku. Tidak ada. Tidak ada satu orang pun disini. Seakan-akan di dunia ini hanya ada aku sendirian. Seolah-olah semua orang meninggalkanku di tempat yang sunyi ini. Sunyi, gelap, hampa, dingin, kesepian. Sampai aku mendengar sebuah alunan musik yang entah dari mana asalnya. Sesuatu yang aku tahu adalah sebuah lagu yang memenangkan jiwa. Seperti seseorang yang memainkan itu menuntunku menuju jalan yang benar. Seolah yang memainkannya sedang menenangkanku dari kehampaan ini. seolah dia sedang ingin menarikku dari jurang kesunyian yang aku rasakan saat ini. Memberikanku penerangan yang cukup sehingga aku bisa melanjutkan langkah kakiku dan menegakkan kepalaku. Suara itu, suara yang berasal dari kumpulan nada-nada yang tersusun rapi. Suara yang berasal dari pijatan sang ahli dengan not yang pas. Sebuah harmoni yang seperti sengaja di ciptakan untuk menenangkan hati orang yang mendengarnya. Tapi, yang aku tahu aku jatuh cinta akan hal itu sejak pertama kali mendengarnya. Dan tanpa sadar, kakiku melangkah mencari dari mana suara itu berasal. Sebuah ruangan dengan cahaya remang-remang. Ruangan itu kosong, hanya ada sebuah piano di tengah-tengah ruangan. Walaupun tidak terlalu terang, aku bisa melihat seorang pria berkemeja kotak-kotak sedang memainkan piano itu. Punggungnya melenting-lenting menikmati irama yang dia mainkan sendiri. ~Next to chapter 1~
BROKEN HEART [END], écrit par amel260206
44 chapitres Terminé
[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA 👍] Cerita ini mengandung bawang yang bisa membuat kalian menguras air mata. Dan juga terdapat kata kasar. Mohon bijak dalam membaca. Kisah seorang gadis yang di nikahkan oleh pria yang dia cintai. Pria itu menikahkannya bukan karna cinta melainkan karna balas dendam sebab gadis itu membuat tunangannya koma. ❤️❤️❤️ "Sampai kapanpun, gue ngak sudi makan masakan yang lo buat" "Ta-tapi-" belum sempat Hana melanjutkan kalimatnya, Daniel mendorong kuat tubuh Hana hingga wanita itu tersungkur ke lantai yang ada serpihan vas itu. Bahkan lutut dan telapak tangannya terkena serpihan itu, Hana menangis saat melihat darah mengalir. Kemudian Daniel mengarahkan kakinya untuk menginjak tangan Hana bahkan ia menekan kuat sehingga darah dari telapak tangannya mengalir deras. Hana memekik keras, namun Daniel tidak menghiraukannya. "Aww...Da-daniel.... Sa-sakit, kumohon... Le-lepas" Daniel melepaskan tinjakkannya, Hana bernapas lega. Tapi Daniel kembali mencengkeram rahangnya hingga Wanita itu mendongak, kemudian tangan Daniel melayang ke pipi mulus gadis itu. PLAK Hana merasa pipinya panas, tamparan Daniel tidak main-main bahkan bisa ia rasakan bibirnya sedikit berdarah. "Menangis sepuas lo, karna penderitaan lo masih panjang!!" ucap Daniel dingin, ia menyeringai tajam. ❤️❤️❤️ Akankah Hana bisa Mendapatkan Cinta Daniel? Bisakah Ia bertahan sampai Akhir? penasaran Sama Ceritanya? Kuy Baca Aja:) ⛔PLANGIAT DILARANG COPAS ⛔ Kalo udah baca ini, kuy baca Kahfi dan Naya 😊
untuk damai, écrit par bintarobastard
20 chapitres En cours d'écriture
Di antara lorong-lorong masa tua yang sunyi, di sebuah kamar bernomor tujuh di kota kecil Salatiga yang dingin dan penuh embun, dua lelaki tua duduk bersebelahan. Satu terbaring dengan mata nyaris kosong, satunya lagi menyisir rambut pasangannya dengan kelembutan yang nyaris menyakitkan. Suara dari walkman tua mengalun pelan-lagu lawas yang menyimpan lebih dari sekadar melodi: ia menyimpan hidup. Begitulah kisah ini dimulai. Dengan sebuah lagu. Dengan sepotong waktu yang tidak bisa diulang, tapi bisa diputar ulang. kembali ke tahun 2000, saat Damai, seorang remaja Jogja yang spontan dan hangat namun peka terhadap detail-detail kecil dunia, bertemu dengan Alam -anak Jakarta yang dikirim ibunya untuk 'beristirahat dari kebisingan'. Alam membawa kegelisahan seorang anak yang belajar menelan sunyi. Jogja menjadi panggung bagi pertemuan mereka, tapi bukan sekadar latar: kota ini adalah karakter ketiga dalam hubungan mereka. menjadi ruang di mana Alam dan Damai berjalan bersama. Membicarakan hal-hal kecil. Makan roti isi sambil duduk di stadion kosong. Mandi di Kali Winongo, ciprat-cipratan seperti bocah. Tidak ada yang berbeda . Yang ada hanya kehangatan yang tumbuh perlahan-dan itu cukup. Bahkan mungkin lebih dari cukup. Seiring tahun-tahun berlalu, mereka tumbuh. Dunia berubah. tubuh Alam mulai memudar. Tapi tidak kenangan mereka. Setiap sore, Damai memutar lagu dari kaset mereka yang lusuh dan di sinilah pembaca akan memahami: bahwa surga, seperti yang mereka bicarakan di usia lima belas di stadion tua, bukanlah tempat. Surga adalah momen. Adalah keberadaan yang lengkap, bukan sempurna. Adalah hari-hari ketika kamu merasa cukup, tanpa perlu memiliki segalanya. untuk damai adalah cerita tentang rumah yang bukan hanya tembok dan atap, tapi mata seseorang yang mengenal kita tanpa harus dijelaskan. kisah yang akan membuatmu berpikir, walau hanya sekali dalam hidupmu: kalau ini bukan surga, aku tidak tahu apa lagi.
𝙄𝙧𝙧𝙚𝙥𝙡𝙖𝙘𝙚𝙖𝙗𝙡𝙚 - Sehun x Yoona ✔️, écrit par evenrose95
39 chapitres En cours d'écriture
‼️F I K S I‼️ 𝙄𝙧𝙧𝙚𝙥𝙡𝙖𝙘𝙚𝙖𝙗𝙡𝙚 (adj) : tak tergantikan 🍀🍀🍀🍀🍀 "Buat Kakak," ucap seorang wanita muda mengeluarkan sebuah amplop putih yang tercantum nama sebuah rumah sakit. "Buat aku? Rumah sakit? Kamu sakit?" tanyanya yang dibalas gelengan kepala oleh sang kekasih. Angkasa mengernyitkan keningnya, tangannya meraih amplop tersebut dan membukanya. Seketika wajahnya berubah pias seolah darah direnggut paksa dari wajahnya hingga membuat pucat sempurna seiring iris kembar legamnya menelusuri deretan kata yang tertera diatas kertas putih tersebut. "Aku hamil, Kak. Kata dokter anak kembar dan umurnya sudah 3 minggu." Seiring kalimat itu terucap, nadanya merendah hampir tak terdengar kalau Angkasa tidak memberi fokus padanya. "Gimana bisa? Senja, kita baru ngelakuin itu sekali. Enggak mungkin langsung jadi. Senja, bilang sama aku. Ini bukan anak aku kan?!" "Bukan anak kamu? Kakak nuduh aku ngelakuin itu sama orang lain, iya?" "Gak mungkin. Keluargaku gak punya keturunan kembar. Gak mungkin itu anak aku, Senja! Bilang sama aku, siapa yang udah menghamili kamu?" Setetes air terjun bebas dari pelupuk mata. Hatinya terluka begitu dalam sebab kalimat yang terucap bagaikan belati yang menyayat setiap lapisan hatinya. Senja sama sekali tidak pernah menyangka jika kalimat itu terucap dari bibir pria yang kerap kali menyatakan besarnya cinta yang dimiliki untuknya. Lantas apa sekarang? Dimana rasa cinta yang selalu digaungkan di telinganya itu? Bahkan Senja mendadak kehabisan kata. Senja seperti tak mengenal sosok didepannya. Asing. "Gugurin. Kalau kamu masih cinta sama aku, gugurin. Aku bakalan tetap menerima kamu asal kamu gugurin kandungan kamu." Kalimat terakhir yang Senja dengar sebelum kaki jenjangnya membawa tubuhnya melangkah pergi dari hadapan pria yang dicintainya itu tanpa ada niatan menoleh sedikitpun ke belakang meninggalkan Angkasa yang masih diam seribu bahasa tanpa berniat mengejarnya.
WARISAN, écrit par metamorfosis2015
24 chapitres Terminé
" bang....lu kenapa...?" tanya daru begitu melihat gue yang menghentikan pergerakan tangan ini dari menarik tali timba, mendapati pertanyaan daru tersebut, gue kembali menggerakan tangan ini untuk menarik tali timba " kenapa sih bang..." tanya daru kembali seraya beranjak bangkit dari kursi pendek tempatnya mencuci pakaian, dan sepertinya suasana hari yang mulai beranjak gelap telah membuat daru tidak ingin untuk berlama lama lagi berada di halaman belakang " enggak tau nih...seperti ada sesuatu yang tersangkut di ember timba ini..." mendengar jawaban gue tersebut, daru menunjukan ekspresi ketidakpercayaannya, dan kini dengan perawakan tubuhnya yang besar, daru mengambil alih tali timba yang berada di dalam genggaman tangan gue lalu menariknya secara perlahan " itu apa bang......?" tanya daru, diantara pandangan matanya yang menatap ke dalam lubang sumur yang gelap ....blupppp... Entah benda apa yang telah terjatuh ke dalam air di dalam sumur hingga menimbulkan suara yang menggema, tapi yang pasti seiring dengan terdengarnya suara gema tersebut, pergerakan tangan daru yang tengah menarik tali timba terlihat semakin ringan, hingga akhirnya ketika ember yang berada di ujung tali timba mencapai bibir sumur, gue dan daru hanya bisa saling berpandangan dalam benak tanya atas apa yang sebenarnya telah terjadi " lu tadi lihat kan bang...sebenarnya yang tadi tersangkut di ember ini, benda apa ya...?" tanya daru sambil memandang ke dalam sumur Sekelumit perbincangan kecil antara gue dan daru adalah sebuah bentuk ketidaksadaran kami dalam menangkap sebuah sinyal alam yang mencoba untuk memberikan kami sebuah jawaban atas misteri yang menyelimuti tempat tinggal kami...yaa...sebuah misteri yang akhirnya memberikan kami sebuah pelajaran bahwa ada sisi lain selain sisi kebahagian yang menyelimuti dari sebuah kata warisan
Vous aimerez aussi
Slide 1 of 10
Petikan Lingga cover
Tanya Hati (Selesai) cover
Jodoh Kedua (END) cover
BROKEN HEART [END] cover
Meneroka Jiwa 2 cover
untuk damai cover
catharsis cover
Menjaga Monster cover
𝙄𝙧𝙧𝙚𝙥𝙡𝙖𝙘𝙚𝙖𝙗𝙡𝙚 - Sehun x Yoona ✔️ cover
WARISAN cover

Petikan Lingga

12 chapitres Terminé

Suara petikan gitar mengisi ruangan kecil itu, menggema lembut di antara dinding-dinding kosong. Lingga duduk bersila di lantai, memeluk gitar akustiknya seperti seorang sahabat lama yang selalu setia mendengar. Tangannya bergerak perlahan, memainkan melodi yang sederhana namun penuh makna. Mata Lingga terpejam, seakan mencari ketenangan di antara setiap nada yang ia mainkan. Hari itu, matahari menyelinap masuk melalui celah-celah jendela. Langit berwarna jingga keemasan, tanda bahwa senja sudah mulai memeluk hari. Lingga tahu bahwa waktu terus berjalan, namun ia merasa seolah detik-detik itu melambat saat ia tenggelam dalam musiknya. Di sudut ruangan, terletak sebuah foto kecil yang berdiri di atas meja kayu. Foto itu adalah potret dirinya bersama Nalendra-tertawa bersama di sebuah taman dengan cahaya matahari menerpa wajah mereka. Lingga melirik foto itu sejenak, senyumnya muncul tapi dengan berat, seakan ada sesuatu yang tertahan. Petikannya terhenti. Lingga menarik napas dalam-dalam, lalu menundukkan kepala, memandangi gitar di pangkuannya. "Len... gue nggak tahu kenapa gue selalu mainin lagu ini setiap kali gue mikirin lo," gumamnya lirih. Ia mengusap wajahnya, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang di matanya. Hening. Hanya ada suara angin yang meniup lembut tirai jendela. Lingga kembali menyandarkan punggungnya ke dinding, mencoba mengingat saat-saat ia dan Nalendra duduk bersama di tempat ini. Gitar yang kini di tangannya pernah dimainkan oleh Nalendra, bahkan melodi yang ia mainkan barusan adalah lagu yang sering mereka nyanyikan bersama. "Mungkin lo bener, Len," bisiknya pelan. "Hidup ini nggak selalu soal yang sempurna, tapi soal belajar menerima." Lingga tersenyum kecil, meskipun hatinya masih terasa berat.