storm
  • WpView
    Reads 8
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Dec 4, 2015
Suara piano menggelegar memenuhi ruang bercat putih disudut rumah yang seperti mati, tidak ada gelak tawa, tangisan, candaan, bentakan atau apapun yang bisa membuat rumah itu bernyawa hanya ada suara piano yang dimainkan namja berpakaian serba hitam. Tidak ada senandung yang keluar dari mulutnya yang seakan bisu, hanya jari-jarinya yang menari indah diatas tuts-tust piano yang memandangnya kelu. Namja itu tak menghiraukannya, dia tetap bermain dengan benda mati yang mengalunkan melodi indah. Lagu apa yang dimainkan pria itu? Tidak ada lagu yang dia mainkan, dia hanya menyeret tangan-tangannya menari mengikuti not not yang tercetak dihatinya. Namja itu menenggelamkan indah matanya dibalik kelopak, sedetik itupun bertubi-tubi perasaan menyesakkan menerjang, menghujam, menikam, dan mencabik semua organ yang Tuhan ciptakan untuknya tanpa rasa kasihan, tak memberikan cela secarcikpun untuk sekedar menghirup oksigen yang dia butuhkan. Sekelibat potongan-potongan klise terpampang diotaknya dan bergerak seperti film pendek yang mampu membuatnya berhenti untuk bernafas.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Narasi patah hati
  • untuk damai
  • WARISAN
  • Mahligai Cinta [END]✓
  • 𝙄𝙧𝙧𝙚𝙥𝙡𝙖𝙘𝙚𝙖𝙗𝙡𝙚 - Sehun x Yoona ✔️
  • Ashita 2  :   your Memory Of Darkness
  • Yang Pernah Patah
  • Tanya Hati (Selesai)
  • Meneroka Jiwa 2

Pernikahan yang ada di depan mata hancur berantakan dalam semalam. Mimpi, cinta, usaha dan segala hal yang selama ini ia tapaki seolah runtuh bersama dengan pengkhianatan yang ia terima. Mahika tak pernah menyangka hidupnya yang adem ayem akan mencapai titik klimaks rasa kecewa di usia dua puluh dua. Sikap optimis yang mendarah daging dalam dirinya tak lagi bersisa selepas malam itu. Tak lagi ada setitikpun cahaya yang bisa ia lihat ketika bangun di pagi hari. Cintanya selama dua tahun kandas di saat mereka harusnya tengah berbahagia. Bagaimana bisa dunia sekejam itu padanya? Narasi-narasi patah hati berkumandang nyaring sekali, menyambut kegagalan akbarnya yang mematahkan hati ; sepatah-patahnya. Mahika hancur, lebur dalam keping-keping rasa sakit yang tiada henti menikam, meluluh-lantahkan sedikit harga diri yang ia genggam. Luka itu terlalu dalam hingga ia meragu ... bertanya-tanya diantara isak tangis yang ia untai di depan Tuhan yang maha kuasa. Pasca rasa sakit ini, apakah ia akan bisa kembali jadi Mahika seperti sebelumnya? Apakah akan ada masa dimana ia percaya lagi pada cinta? Dan apakah ada di luar sana, setidaknya satu saja ... satu saja manusia yang bisa ia genggam tangannya tanpa menyakiti ataupun mengkhianati? (PERHATIAN ‼️ BEBERAPA PART DALAM CERITA INI SUDAH DI HAPUS OLEH PENULIS DAN BISA DI BACA DI KARYAKARSA. TERIMAKASIH.)

More details
WpActionLinkContent Guidelines