MLS (2) - Fibonacci Love

MLS (2) - Fibonacci Love

  • WpView
    LECTURES 4,642
  • WpVote
    Votes 402
  • WpPart
    Chapitres 43
WpMetadataReadTerminé ven., oct. 23, 2020
Math Love Series (MLS) 2 - Sinta Feranda sudah berteman sejak kecil dengan Alfarid Fernandaka. Mereka satu SD, SMP, bahkan satu SMA. SMA Airlangga. Alfarid atau lebih akrab disapa Alfa sekarang berprofesi sebagai artis saat memainkan satu sinetron yang sangat populer. Ia menjadi artis muda, karena sekarang ia masih kelas 1 SMA. Dimulai dari kegemaran Sinta membidik kamera, menjadikan ia bercita-cita ingin menjadi seorang wartawan. Ia selalu sibuk dengan kegiatannya di pramuka, klub jurnalistik, mading, bahkan radio sekolah. Mencoba mewawancarai Alfa, tampaknya bisa juga. Punya sahabat artis biar bisa lebih berguna harus dimanfaatkan bukan? Artis bersahabat dengan calon wartawan. Klop. Dan apa yang membuatnya sedikit rumit? "Perasaanku terus bertambah seperti pola bilangan fibonacci." -Fibonacci Love Awesome cover by @deadleavess
Tous Droits Réservés
#3
mls
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Misi Kalisa (End)
  • Sosiologi Cinta (TAMAT)
  • AL - TA [END]
  • Promise
  • Sahabat🍂 [COMPLETED]
  • Arsyilazka
  • Silent Heart!
  • Coldgirl And Badboy [Completed]
  • Friend Or Love [END]

"Ngapain lo!" Suara seseorang menyadarkanku, membuatku berbalik lalu menatapnya intens. Cowok belagu lagi. "Menurut lo, gue ngapain disini?" Ucapku setelah satu detik mencoba setenang mungkin. Dia menatap langit langit perpustakaan. Lalu menatapku kembali. "Lo ngadem kan," ucapnya dingin. Dia bukan bertanya, lebih tepatnya nuduh. "Sotoy banget lo!" Ucapku ketus tapi masih kategori pelan. "Aneh aja. Cewek kaya lo meluangkan waktu di perpus, apalagi sekarang nyari buku di rak matematika," ucapnya datar. "Emang kenapa?" Sahutku mulai kebawa emosi. Dia tersenyum miring. "Nggak pantes!" Ucapnya sambil mengeja. Lalu meninggalkanku dengan tersenyum devil. "Kenzo," panggilku berhasil membuatnya menoleh. Risih banget pertama kali manggil namanya. "Keren doang ya muka lo, tapi mulut lo busuk!" Mampus lo! Sakit hati sakit hati lo. Bodo amat dah. "Jadi gue keren?" "What?" Aku shock mendengarnya. "Thanks ya," ucapnya tersenyum sekilas sebelum benar benar meninggalkanku.

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu