Tidak Membenci Sebuah Harapan
"Kamu memang cantik dan pintar, Alifah. Tapi sayang, kamu nggak bisa mengubahnya menjadi lebih baik. "
Deg!
Di dalam hidupnya Alifah, dia terbiasa memendam rasa kecewa karena perasaannya selalu tidak dipedulikan bahkan oleh orang terdekatnya sekali pun. Meski begitu, Alifah cukup mampu mengubahnya menjadi hal yang membuat dia termotivasi untuk menjalani hidup. Namun, lain dengan sederet kalimat tersebut. Kalimatnya masih selalu memutar di kepala ketika keberisikan itu melanda, hingga menimbulkan rasa menyalahkan dirinya sendiri yang hebat.
"Tuhan, tolong! Aku tidak membencinya. Tapi ini terlalu sakit. Salah, kah jika harapan itu masih aku inginkan?" lirih Alifah sendiri meski tubuhnya sudah semakin gemetar.
"Harapan memang tidak selalu sesuai pada kenyataan, Alifah. Tapi percayalah ... itu semua, pasti ada warnanya," kata Yoga. Dia tahu, adiknya sedang tergoncang hebat sekarang.
Mampu, kah, Alifah keluar dari perasaan menyalahkan dirinya sendiri dan rasa insecure itu. Lantas, mendengarkan apa yang dikatakan sang kakak?