Belahan Jiwa - Sequel Fika

Belahan Jiwa - Sequel Fika

  • WpView
    Reads 136,587
  • WpVote
    Votes 5,571
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadComplete Fri, Jul 26, 2013
WpInfo
Fiction
Romance
Rasanya seperti mimpi... Dari sekian banyak wanita di sekitarmu, kau menolak mereka yang sempurna dan malah memilihku yang penuh dengan kekurangan. Aku hanya bisa mengucapkan terimakasih, karena kau telah menerima segala kekuranganku dengan iklas, walau terkadang kau menyebalkan, tapi kau tetaplah belahan jiwaku. -Fika- Aku mencintaimu... Mungkin kata-kata itu jarang terucap dari bibirku. Bukan karena aku tidak mencintaimu. Tapi karena aku tahu, yang kau butuhkan adalah bukti nyata, bukan hanya sekedar kata-kata. Karena itu kuputuskan, selama sisa hidupku, akan ku buktikan... bahwa aku mencintaimu. Karena kau adalah belahan jiwaku. -Guntur- Walau pun benang merah itu tidak kasat mata, namun kami tahu, dia ada di sana dan mengikat jari kelingking kami. -Fika & Guntur-
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • MY CICI [END]
  • Takdir Semesta
  • Hanya Milikku S2 [zeechik]
  • pernah yang tak kan terulang kembali(love story from the author)
  • Alena Story (END)
  • Time Release
  • Jatuh Cinta Diam-Diam

sebelum baca, FOLLOW dulu gasii??? "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines