Unforgettable

Unforgettable

  • WpView
    Reads 169
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Dec 9, 2015
{Henry Slavetion Calvior} Entah kenapa, setiap bertemu dengannya. Kami selalu bertengkar, tapi bertengkar dengannya terasa seperti tak direncanakan, hari-hari biasaku sudah terjadwal dan perempuan yang mendekatiku kebanyakan mudah ditaklukkan. Suatu ketika aku mencibir bahwa aku bosan dengan semuanya. Aku pun memanah dan berkuda dengan emosi. Dan tak kusangka itu didengar olehnya, kami pun menjadi akrab dan bersahabat. Aku merasa nyaman bersamanya, aku pun berniat ingin memilikinya. Dia pun mengangguk menerimanya. Betapa senangnya aku, tiap aku bosan, maka aku tinggal menelponnya atau menemuinya, lalu semuanya akan sirna. Berjalannya waktu, kami berpisah. Aku melihatnya koma dalam waktu yang sangat lama. Dikarenakan ada kelompok yang mencelakainya. Hari yang tak bisa kulupakan, dia terbujur kaku dengan bersimpah banyak darah di depan mataku. Banyak orang bahkan kedua orangtuanya pun mengatakan, dia sudah tidak bisa diselamatkan, dikubur saja dengan begitu dia akan tenang. Namun aku bersikukuh untuk tetap merawatnya. Aku pun menangis saat ada berita seseorang telah mencabut infusnya hingga dia benar-benar meninggal. Tapi tiap kali aku berusaha melupakannya, aku malah semakin mengingatnya. Jika aku mengingatnya maka air mataku pun mengalir tanpa kuinginkan. Sekarang aku menikah, aku menerima perjodohan dikarenakan hubungan politik. Aku cukup bisa melupakannya karena istriku ini berusaha keras untuk menjadi sepertinya. Istriku terbilang sangat cantik. Namun yang tak kusuka darinya adalah kesombongan dan kecemburuan yang mengakibatkannya bisa berbuat jahat. Sampai saat ini pun aku tak percaya dengan semua orang, aku masih merasa gelap dihatiku sejak melihatnya terluka parah. Dan dia takkan pernah kembali kepelukanku. Kujalani hariku seperti tanpa tujuan, mataku kosong, aku kehilangan pasangan jiwaku. Walaupun aku masih bisa tersenyum ataupun tertawa. {Quisafyna Flori} Aku sangat mencintainya, Henry Slavetion Calvior. Semoga kau bahagia dan selalu baik-baik saja.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Mahligai Sunyi
  • Komposisi Cinta (END)
  • UTOPIS || Anthony Ginting
  • Fading Out Flickers
  • Still You (END)
  • Transmigration Agent's Daughter (Season 2)
  • ALVIN (On Going)
  • You're Here, But Not For Me
  • Remember Me As A Time of Day✅

Novel "Mahligai Sunyi": Senja mulai menua di balik jendela kaca, membiaskan cahaya jingga yang merayap perlahan di sudut ruangan. Aku duduk dalam diam, menatap kosong pada cangkir teh yang tak lagi mengepul. Aroma melati yang biasa menenangkan kini terasa hambar di inderaku. Aku terjebak dalam pusaran pikiranku sendiri, menggenggam kenyataan yang pahit namun tak bisa kutolak. Aku pernah percaya bahwa cinta adalah tentang memilih satu orang, bertahan dengannya dalam segala cuaca, dalam segala luka. Namun, kini aku mengerti bahwa terkadang, cinta juga berarti kehilangan-kehilangan harapan, kehilangan rasa percaya, bahkan kehilangan diriku sendiri dalam labirin luka yang diciptakan oleh seseorang yang seharusnya menjagaku. Arion adalah cintaku, atau setidaknya pernah menjadi. Aku mempercayainya lebih dari yang seharusnya, mencintainya lebih dari yang pantas. Namun, cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga. Tidak cukup untuk menghindarkanku dari rasa sakit yang berkali-kali ia hadiahkan. Tidak cukup untuk membuatnya berhenti mencari bahagia di tempat lain. Aku telah memaafkan, berkali-kali. Aku telah memberi kesempatan, hingga tak tahu lagi batas dari kata "cukup." Tetapi, sampai kapan aku harus terus bertahan? Sampai kapan aku harus mengorbankan kebahagiaanku sendiri demi menjaga sesuatu yang terus menerus hancur? Dan di sinilah aku, berdiri di persimpangan. Antara bertahan dengan luka atau pergi dengan sisa-sisa keberanian yang kupunya. Aku tidak tahu bagaimana akhir dari kisah ini. Yang kutahu, aku hanya ingin menemukan kembali diriku yang telah lama hilang.

More details
WpActionLinkContent Guidelines