Mr.Rude
  • WpView
    Reads 165
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, May 12, 2017
Tatapan matanya bagaikan pedang yang mampu menusuk jantungku, begitu tajam saat menatapku. Kata-katanya mampu menyayat hati, walau hanya beberapa kata yang ia lontarkan tapi sangat menyakitkan. Tapi ada satu perasaan yang membuatku ingin bertahan untuk berada disisinya. Cinta. Ya, aku memang bodoh mencintai seseorang yang bahkan tak sudi melihatku. Aku tau dirinya sangat membenciku dan mengaggapku hama yang harus ia jauhi atau di basmi agar hidupnya tak tertanggu oleh keberadaanku. Ia amat sangat tak menginginkan kehadiranku dalam hidupnya. KALAU TERTARIK SILAKAN MEMULAI MEMBACA DILARANG KERAS MENG-COPAS CERITA INI.
All Rights Reserved
#709
chicklit
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Don't call it love!
  • Touch Love (COMPLETE)
  • Pelakor? Yes, I'm!
  • Oriana's Wedding Diary (Akan Tersedia Di Gramedia 8 Mei 2017)
  • Unwanted Husband [END]
  • Misteri- US
  • Love My C.E.O !!! (The End)
  • LOVER
  • DikaRanggi
  • Hubungan dalam Kerumitan (End)

Semesta rasanya tidak berpihak pada Cyntia. Tidak hanya perusahaannya yang sedang berada dibawah roda kehidupan, tetapi neneknya sakit dan terus memaksanya menikah. Orang yang ia cintai dan mencintainya pun hilang tak ada kabar. Tak ada pertolongan rasanya. Pada akhirnya pilihan terburuk muncul. Ah, mungkin tak bisa disebut pilihan. Ia harus melakukan itu dengan terpaksa. Pria yang melukiskan kehidupan kelamnya pun muncul. Konyol rasanya saat pria itu mengajaknya menikah. *** Aku tak tahu apa itu cinta. Bahkan, saat ini bagiku itu satu kata yang abstrak luar biasa. Baginya rasa yang terasa itu cinta, tetapi mengapa rasanya merusak jiwa raga. Bagiku itu bukan cinta, melainkan suatu rasa yang amat hampa. Akhirnya satu kata menjadi beda makna. "Bukankah kau sangat membenciku?" Tanyaku. Ia diam, tanpa menatap mataku. Secara tak sadar aku tersenyum sinis padanya dan aku berusaha menahan rasa kesalku. "Apakah melemparkan susu basi ke wajahku adalah bentuk rasa suka?" Aku mengungkit masa lalu. Matanya pun mulai menatap mataku. Aku takut dengan wajah itu. Di bawah meja tersembunyi tangan gemetarku. Mataku berpura-pura tegar saat bertemu matanya itu. Aku berusaha bicara meski lidahku terasa kelu. Aku berusaha berdiri tegak meski kakiku tak berdaya. Waktunya pergi dari hadapannya. Aku akan katakan terakhir kalinya. "Jangan sebut itu cinta!" "Aku melamarmu bukan karena cinta. Bukankah, seharusnya kau yang memohon padaku agar kita bisa memanfaatkan satu sama lain?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines