Junior High School True Love Story

Junior High School True Love Story

  • WpView
    Reads 495
  • WpVote
    Votes 28
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jan 9, 2016
WpInfo
Fiction
Action and Thriller
Haii.Gw mau cerita tentang perasaan yang rumit.gw mau kenalin nama gw dulu.nama gw Monica.Biasa di panggil monic Gw kelas 8,gw punya sahabat namanya Venessa,sylvia,Wenny,Fiona. Ceritany begini,gw lagi suka sama cowo,tapi cowonya ga tau kalo gw suka sama dia.Soalnya masih gw pendam,kenapa? Karena di kelas gw jg ada yang suka sama dia,tapi w masih ga tau bener apa kaga.Yang gw tau dia lagi suka sama kelas lain,yang w bingung kenapa stiap w lgi deket sama cowo yang gw suka,dia selalu nyamperin.Antar mau bikin gw cembur ato gimana.kalo ga salah dia tau kalo gw suka sama dia.trus kadang w kesel banget sama dia,rasanya pengen w apain gtu dianya.Tapi w sabar aj,gw sadar kalo gw bukan siapa"nya.oh iya cowok yang w suka namanya lion,temen gw yang suka ganggu gw kalo lagi sama doi namanya pricil dan orang yang pricil suka namanya dean.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Rindu Senin Pagi
  • It HURTS
  • kenapa harus kapten basket yang jadi suamiku
  • DUTRA AZALEA (COMPLETED)
  • Best Friend To be Boyfriend -pjm ✔
  • Bawa Aku Pulang (End)
  • C I N (T) A (COMPLETE)
  • Wanita Luar Biasa
  • Pretty Careless

Kisah ini terinspirasi dari kisah nyata. Kisahku, perempuan bodoh yang terpaksa duduk sebangku dengan laki-laki pintar yang menyebalkan. -- Aku mencarinya di dalam tas, semua isi tas kukeluarkan dan kuletakkan di atas meja. Namun tetap tidak ada. Aku mencari di kolong meja, mencari di bawah meja dan bawah kursi. Hingga sepertinya laki-laki di sebelahku terganggu dengan keribetanku. "Ribet banget." Katanya datar sambil mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Aku menoleh ke arahnya sebentar "Apaan, sih, lu?" Balasku kesal. Lalu lanjut lagi mencari-cari pulpenku di dalam tas. Aku ingat betul selalu meletakkan pulpenku di bagian depan tas. Namun pagi ini entah kenapa ia menghilang. "Kaya enggak ada pulpen lain aja." Ucapnya sinis. "Apaan, sih? Orang gue cuma punya satu! Lagian, lu, temennya lagi susah nyari pulpen, bukannya bantu, malah nyinyir." Balasku kesal. Ia menoleh ke arahku. "Mana ada pelajar ke sekolah cuma bawa pulpen satu?!" "Gue cuma bawa satu." Terdengar suara salah satu siswa yang duduk di bagian belakang. "Gue juga bawa pulpen satu doang." Terdengar suara siswa yang lainnya. "Denger, kan, lu? Bukan cuma gue yang bawa satu pulpen ke sekolah. Banyak! Makanya jangan samain orang-orang sama lu. Mentang-mentang rajin, teliti, rapih, dan semua alat tulisnya lengkap!" "Bawel!" Ketusnya sambil membuka buku catatannya. Ia mulai fokus dengan buku catatannya itu. "Yaudah gue pinjem pulpen lu, satu." "Gue cuma bawa satu." Jawabnya pelan. "Bintaaaang!" Teriakku. Bintang terkejut melihatku. Dan sepertinya seluruh siswa di kelas juga menoleh ke arahku. Termasuk Bu Vivi yang sedang duduk di kursi guru. Aku tertunduk malu setelah tidak sengaja membentak Bintang yang tingkahnya selalu saja seperti minta dimaki-maki.

More details
WpActionLinkContent Guidelines