Story cover for TINTA HITAM by dyside23
TINTA HITAM
  • WpView
    Reads 100
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
  • WpView
    Reads 100
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
Complete, First published Dec 18, 2015
Mature
"Bagaimana mungkin aku dapat menghindar dari rasa ini? Apakah rasa ini salah? Ini bukan sembarang rasa. Meski aku harus terjebak dalam rasa yang tak berasa, tapi aku yakin, ini bukan sembarang rasa".

***

Aku diam, membiarkan tubuhku yang mungil menari-nari diatas kertas putih. Aku pasrah. Mungkin, dengan ini dia bisa lega dan bahagia. Lagipula aku siapa? Aku bahkan tak punya nyawa. Yang aku bisa, hanya membuatnya merasa jauh lebih bernyawa dengan membuatku menari diatas kertas putih kesayangannya. Ah, Riana. Begitulah nama yang tersemat di seragam sekolahnya dan halaman pertama buku diarinya.

Yana, begitulah teman-temannya biasa memanggilnya. Elok rupanya, cantik wajahnya. Tubuhnya mungil, meski jika dibandingkan dengan aku mungilnya tak seberapa. Tak begitu banyak kata yang tercuap di bibirnya, bisu? Bukan. Riana tak bisu. Dia hanya tak suka banyak bicara. Jika pun dia merasa jengah dan tak nyaman. Yang dilakukan hanya menggenggamku, l
All Rights Reserved
Sign up to add TINTA HITAM to your library and receive updates
or
Content Guidelines
You may also like
Capricorn by Baperterussss
11 parts Ongoing
"Aku suka sama Kak Al." Rea mengatakannya tanpa ragu. Tenang. Pelan. Tapi dalam dadanya, jantungnya berdebar seperti genderang perang. Lapangan basket sore itu sepi. Matahari sudah tenggelam separuh, menyisakan semburat jingga yang menggantung di langit. Angin membawa bau rumput basah dan suara tiang ring basket yang berderit pelan. Di tengah sunyi itu, Rea berdiri, seragamnya masih rapi, rambutnya dikuncir seadanya, dan matanya menatap Kak Al, lurus. Alvano menoleh, pelan. Keringat masih menempel di pelipisnya, dan bola basket tergenggam di tangan kirinya. Ia diam. "Apa tadi?" tanyanya, suaranya rendah. Tidak kaget. Tapi juga tidak menjawab. Rea menarik napas. Ia benci mengulang. Tapi kali ini berbeda. "Aku suka sama Kak Al," ulangnya, lebih lirih. "Dari awal aku lihat Kakak main di lapangan. Aku tahu ini mungkin... aneh. Tapi aku cuma pengen jujur." Ia tidak terbiasa berkata seperti ini. Tidak terbiasa membeberkan isi hati. Tapi Rea bukan pengecut. Ia adalah seseorang yang lebih takut menyesal karena diam daripada malu karena gagal. "Aku tahu Kakak mungkin nggak mikir apa-apa. Tapi aku cuma pengen bilang," lanjutnya. "Supaya kalau besok-besok aku canggung atau... ngelihatin Kakak diam-diam, Kakak tahu alasannya." Sunyi. Kak Al memutar bola basket di ujung jarinya. Lalu berhenti. Tatapannya tidak tajam, tapi ada sesuatu yang menggantung di dalamnya. Berat. "Rea..." katanya. Lembut. Tapi nadanya membuat dada Rea mengeras. "Kamu manis. Kamu juga berani. Tapi..." Rea mengangguk pelan, mencoba tersenyum meski wajahnya menegang. "Aku udah punya pacar." Deg. Rea tidak menangis. Tidak mundur. Tidak bertanya siapa. Ia hanya berdiri. Diam. Lalu berkata, "Nggak apa-apa, Kak." Yang tidak dia tahu, pacar Kak Al itu... adalah Dara. Kakaknya sendiri. Dan semuanya... baru saja dimulai.
You may also like
Slide 1 of 7
Informed Consent cover
Capricorn cover
Rannia√ cover
Sekali Lagi (End)  cover
Perpindahan Dimensi Sang Penulis  cover
Langkah Seiring (END+EXTRA PART) cover
AMOUR (Mr. Pradipta) cover

Informed Consent

38 parts Complete

"Setiap hal yang terjadi atas persetujuan kita, ada andil kita di dalamnya. Jangan mudah menyalahkan takdir jika ada yang tidak sesuai keinginan, jangan buru-buru menyebutnya ujian, karena bisa saja yang sedang terjadi adalah ganjaran dari apa yang pernah kita lakukan." _ Jovita Hapsari _ Berkisah tentang seorang wanita dewasa, pekerja kantoran, memilih hidup mandiri. Dia pernah jatuh cinta sangat dalam pada pria yang salah sehingga membuat dia tak pernah ingin jatuh cinta lagi, sampai datang kepadanya seorang pria lain dengan sejuta pesona, pria yang menjadi tipe sebagian besar wanita. Mampu membuatnya membuka hati sekaligus menutup hati untuk selamanya. "Keluarga atau pasangan? Ya jelas keluarga! No debat! Karena itu prinsip pribadi gue. Keluarga sudah hadir dari gue bayi, menerima semua baik buruknya gue. Tapi kalau ada cewek yang bisa melebihi atau minimal sama kayak yang keluarga gue lakukan, nggak akan gue lepas lagi." _Pradipta Akmal Rahadi_