Midnight Blues

Midnight Blues

  • WpView
    Reads 803
  • WpVote
    Votes 132
  • WpPart
    Parts 16
WpMetadataReadComplete Sat, Jan 2, 2016
Jam dindingku sudah menunjukkan pukul 11 malam, tapi aku masih belum terjaga sama sekali. Rasanya baterai mataku masih penuh, jadi sangat susah untuk menutupnya. Aku hanya menatap langit kamarku yang berwarna baby blue. Tak jarang aku sering terjaga di tengah malam hari. Sudah kucoba beberapa trik agar tidur cepat tapi masih belum berhasil juga. Hanya suara jarum yang berdetak menemani sunyinya kamarku ini. Sesekali aku melirik jendela kamar yang tertutup rapat, berharap mungkin seperti peterpan akan menghampiriku dan mengajakku jalan jalan di malam hari. Bisa dikatakan aku sangat suka cerita berbau dongeng dan sangat khayal akan ada di kehidupan nyata, namanya juga menghayal dikit gakpapa kan. Tapi tiba-tiba jendela kamarku terbuka lebar bersamaan dengan angin kencang. Rasa takut mulai merambatiku, aku bersembunyi di balik selimut sambil mengintip celah yang ada. Betapa tidak kagetnya ada sosok lelaki gagah yang diterpa sinar rembulan.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Journey at Fantasy World
  • Creepypasta
  • Velmora Selphine
  • Ecosillia
  • kisah horor: teror jam 12 malam
  • Dalam Bayangan Ketakutan: Kumpulan Kisah
  • Antara Dendam dan Cinta
  • Dunia Pararel
  • The Silence That Shaped Me

Aku ingat sekali hari itu adalah hari sabtu malam, cuaca di luar saat itu sangat extrem, hujan lebat yang di sertai dengan angin kencang serta petir yang menggelegar menemani malamku yang lagi terjaga menjaga platform trading, tiba tiba aku merasa ngantuk dan tidak sadarkan diri, aku terbangun di temapat yang asing, ranjang tempatku tidur adalah ranjang bambu yang hanya beralaskan kulit binatang yang berbulu tebal, entah binatang apa itu aku juga tidak tahu, sekeliling ruangan hanya ada meja dan kursi yang juga terbuat dari bambu, dengan perasaan takut aku berjalan menuju pintu bambu yang di anyam dengan rapi, ketika aku membuka pintu aku melihat pemandangan yang luar biasa, halaman yang bersih walaupun sedikit becek karena hujan, beberapa ratus meter di depan terlihat sebuah jurang yang dasarnya tak terlihat karena di tutup oleh kabut, di kejauhan terlihat pulau yang terapung tanpa alat terbang apapun, begitu juga diatasku juga ada pulau terapung.

More details
WpActionLinkContent Guidelines