Setelah bertemu dengannya, aku menjadi yakin, apa itu cinta. Awalnya, tipeku adalah sosok laki-laki tinggi, kaku, dingin, dan berumur satu tahun di atasku. Aku selalu mendapatkan target yang seperti itu. Tetapi tidak akan bertahan lama. Aku akan mulai melupakan targetku yang itu dan menjalani hidupku seperti biasa.
Semua itu hilang sudah saat aku bertemu dengan seseorang, seseorang itu aku tahu dari cerita ibu yang kesekian mengenai anak laki-laki menarik yang ditemuinya. Dia bukanlah tipeku, jauh dari tipeku.
Dia memang lebih tinggi dariku, dia ceria dan tersenyum setiap saat, dia juga sebaya denganku. Tapi aku malah menyukainya. Padahal, aku akan mengabaikan laki-laki sepertinya, tapi entah kenapa, ia mempunyai magnet tersendiri, ia memiliki daya tarik sendiri, dan aku telah jatuh ke dalam pesonanya.
Hanya bisa tersenyum dari kejauhan dan selalu merasa bahagia walau hanya melihatnya dari kejauhan saja.
Aku sangat menyukainya, tapi aku tak bisa berbuat apapun untuk bisa membuatnya tahu tentang perasaanku kepadanya. Bahkan sampai dia pergi dua setengah tahun yang lalu, masih terlihat jelas diingatanku terakhir kali aku melihatnya.
Ketika itu fuyuyasumi sedang berlangsung, dan saat itu pula aku masih duduk dibangku kelas dua SMP. Aku dan ayah menjemput kedatangan nenek dan kakek di bandara. Tak sengaja aku melihatnya bersama seorang lelaki dewasa yang mengenakan mantel berwarna hitam duduk tepat disampingnya. Aku rasa itu ayahnya. Mereka duduk diruang tunggu bandara dengan tas dan koper yang mereka bawa. Saat itu, aku bertanya-tanya sedang apa dia di bandara. Perasaanku bercampur aduk dengan banyak pertanyaan bersarang dikepalaku. Mungkin mereka pergi berlibur? Tapi tetap saja aku takut sesuatu hal yang tak kuinginkan terjadi. Tak lama kemudian mereka berdua pergi meninggalkan ruang tunggu.
Saat fuyuyasumi berakhir, di hari pertama kembali ke sekolah aku tak pernah melihatnya lagi. Ternyata sesuatu hal yang kutakutkan benar terjadi. Bahkan sudah dua setengah tahun berlalu aku tak pernah melihatnya lagi.