Ketika Hati Tak Bisa Memilih

Ketika Hati Tak Bisa Memilih

  • WpView
    Reads 4,406
  • WpVote
    Votes 311
  • WpPart
    Parts 15
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Mar 7, 2021
WpInfo
Fiction
Romance
"Aku janji aku akan kembali untukmu," janji Gabriel. "Benarkah?" tanyaku. "Ya, aku janji karena sejauh manapun aku pergi cinta akan tahu dimana tempatnya berlabuh.. "Dan cintaku akan berlabuh untukmu, percayalah Fy," lanjutnya. **** "Hiduplah bersamaku, Fy," pinta Rio sore hari itu di tepi pantai. "Menjadi Ibu untuk anak-anakku kelak," lanjutnya. "Kamu berbohong padaku, Yo," ujarku lirih, entah aku harus bagaimana. Aku tidak mentolerir sebuah kebohongan, baik itu kebohongan kecil atau pun besar. "Ya, tapi tidak bisakah kamu menatap diriku untuk masa depanmu?" **** Ketika dirimu di hadapkan kepada dua pilihan. Antara masa lalu dan masa depan. Apa yang akan kamu pilih? Masa lalukah? Atau masa depankah? ###
All Rights Reserved
#47
rify
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • 9096 (Complete)
  • Prema Sutram [Completed✔️]
  • (Un) finished Business - END
  • Pengganti ( Selesai ✓ )
  • Do You Remember, Us? [END]
  • BEST OF US - TERBIT CETAK
  • Istri Cadangan

(DALAM PROSES PENERBITAN) (BEBERAPA PART DIHAPUS) - "Aku hamil, Pa.." Kata Seruni. Shit. Aku hampir meloncat dari sofa karena saking kagetnya. Papa seketika melotot. "Runi, kamu jangan bercanda, ya!" Adikku menghela nafasnya. "Kita semua kumpul kayak gini, bukan untuk dengerin aku bercanda, Pa.. aku benar hamil; anakku dan mas Sena.." Mama langsung megangin dadanya yang sepertinya tiba-tiba sesak. "Sen?" Aku menatap Sena yang ada di sebelah Seruni. "Bener?!!" Nawasena tampak bergeming. Kemudian, dia menghela nafas panjang. "Bener, Ra.." Aku langsung mengambil sapu rumah, hendak menghajar Nawasena yang kemudian langsung bangkit dan berlari keluar rumah. Disusul Seruni yang nggak tahu lagi harus berbuat apa selain melindungi Ayah dari calon bayinya. Semenjak saat itu, rasanya waktu berlalu sangat cepat. Semuanya sibuk mempersiapkan pernikahan Seruni dan Nawasena, sampai suatu hari, aku harus duduk berdua dengan Papa dan Mama membicarakan suatu hal. Kami bertiga terdiam cukup lama, sampai akhirnya Mama membuka suara. "Arawinda.. kamu juga harus segera menikah," Semenjak saat itu juga, hari-hariku nggak lagi sama. - 9096 adalah karya saya yang ketiga. Menaruh harapan pada genre komedi romantis, semoga karya saya satu ini bisa menghibur semuanya. Mungkin bukan senyum geli, atau bahkan gelak tawa. Yang saya harapkan, cerita ini tetap bisa menjadi pesan yang memberikan arti. Sekecil apapun itu. Selamat membaca!

More details
WpActionLinkContent Guidelines