Aku Tidak Gila!

Aku Tidak Gila!

  • WpView
    Leituras 196
  • WpVote
    Votos 5
  • WpPart
    Capítulos 2
WpMetadataReadConcluída qui, fev 4, 2016
Mengapa mereka menyebutku tidak waras sedangkan mereka sendiri tak pernah mengerti apa yang aku jalani. Ini hidupku. Dia temanku. Kurang kerjaan sekali kalian mengatakan dia bukan temanku. Dia juga manusia yang memiliki perasaan. Bisa sakit hati kalau ia mendengarnya. Aku marah pada kalian yang mengatakan jika Dimas bukan temanku. Mungkin aku akan meninjumu, menendangmu, atau bahkan mencolok matamu. Tapi Dimas menasehatiku agar diam saja saat ada yang mencemoohku. "Biarkan saja. Mereka hanya orang bermulut besar. Hidupmu lebih berarti." Kata-katanya selalu terngiang di kepalaku. Oh, Dimas. Aku menyayangimu. Rasaku lebih dari cinta seorang kekasih. Melebihi kasih sayang orang tua. Melebihi kesetian kawan pada sahabtnya. Kau bagai bayanganku sendiri. Menempel begitu dekat. Aku takkan membiarkanmu pergi. Kau tidak akan menganggapku gila, kan, Dim? ---------------------------- Selamat membaca! :) -Anisah Dian L
Todos os Direitos Reservados
#169
sendiri
WpChevronRight
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • 90 Hari Selingkuh
  • Kebodohanmu Akhir Cerita Kita (TELAH TERBIT)
  • Gus Raffi ( Mengungkap Tabir Mimpi 101 Butir Tasbih)
  • Surat Cinta Untuk Aisya
  • Backstreet: Life After Breaking Up
  • Maina & Maxim
  • DikaRanggi

"Aku lelah menjadi orang lain hanya agar dunia merasa aku cukup beruntung. Aku bahkan lupa, bagian mana dari diriku yang benar-benar milikku." - Karenina Sembilan puluh hari menuju pernikahannya, Karenina menyadari satu hal yang mengerikan: ia tidak sedang bersiap menjadi seorang istri, ia sedang dipoles untuk menjadi aset. Aidan-pria yang oleh dunia dianggap sebagai definisi kesempurnaan dan pewaris otoritas dinasti-telah membangun sebuah sangkar emas yang begitu megah hingga Karenina lupa bagaimana cara mengepakkan sayapnya sendiri. "Kamu itu hanya perlu tetap indah dan tenang. Biarkan aku yang merancang seluruh peta hidup kita." - Aidan Lalu muncul Bintang. Seorang petualang yang mencintai perjalanan melebihi tujuannya. Ia adalah antitesis dari segala kekakuan yang mengepung Karenina. Baginya, Bintang adalah personifikasi dari kebebasan yang hilang. Ia bahkan berani untuk sekadar mengecap rasa sepotong ayam goreng pinggir jalan tanpa rasa bersalah. Bersama Bintang, Karenina merasa menemukan celah pintu yang terbuka. Namun, kebebasan itu tidak pernah datang dengan cuma-cuma. Bintang memang meminjamkan sayap, tapi pria itu tidak datang sendirian. Ia membawa beban di punggungnya. "Aku tidak punya apa-apa, Nin. Selain jalanan panjang dan sebuah kebebasan. Tapi setidaknya, bersamaku, kamu tidak perlu mengenakan topeng siapa pun." - Bintang Perselingkuhan ini bukan tentang ranjang. Ini adalah sebuah pemberontakan hati yang sedang sekarat-perjalanan panjang untuk mengeja ulang makna cinta dan menemukan kedamaian yang jujur. Karena pada akhirnya, tak ada hati yang benar-benar bersalah, sebagaimana tak ada hati yang sepenuhnya suci. Setiap hati punya luka, tapi setiap hati juga punya penawarnya sendiri. Dan Karenina... ia menemukan arti itu dalam langkahnya; bermula dari dinginnya dinding kemewahan Jakarta, hingga ke heningnya lembah Bhutan, kemegahan Himalaya, dan sakralnya cahaya purnama di Taj Mahal.

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo