Aku Tidak Gila!

Aku Tidak Gila!

  • WpView
    Reads 196
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadComplete Thu, Feb 4, 2016
Mengapa mereka menyebutku tidak waras sedangkan mereka sendiri tak pernah mengerti apa yang aku jalani. Ini hidupku. Dia temanku. Kurang kerjaan sekali kalian mengatakan dia bukan temanku. Dia juga manusia yang memiliki perasaan. Bisa sakit hati kalau ia mendengarnya. Aku marah pada kalian yang mengatakan jika Dimas bukan temanku. Mungkin aku akan meninjumu, menendangmu, atau bahkan mencolok matamu. Tapi Dimas menasehatiku agar diam saja saat ada yang mencemoohku. "Biarkan saja. Mereka hanya orang bermulut besar. Hidupmu lebih berarti." Kata-katanya selalu terngiang di kepalaku. Oh, Dimas. Aku menyayangimu. Rasaku lebih dari cinta seorang kekasih. Melebihi kasih sayang orang tua. Melebihi kesetian kawan pada sahabtnya. Kau bagai bayanganku sendiri. Menempel begitu dekat. Aku takkan membiarkanmu pergi. Kau tidak akan menganggapku gila, kan, Dim? ---------------------------- Selamat membaca! :) -Anisah Dian L
All Rights Reserved
#84
bayang
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Mantan Terindah
  • Maina & Maxim
  • Angel To Raya (END)
  • ABOUT ME : Aku Ingin Istirahat
  • Backstreet: Life After Breaking Up
  • 90 Hari Selingkuh
  • Surat Cinta Untuk Aisya
  • Step Backward
  • Gus Raffi ( Mengungkap Tabir Mimpi 101 Butir Tasbih)

Sebuah siksaan yang berat bagi Bagas untuk mengabaikan ketertarikan fisik terhadap mantannya, Nessa, yang saat ini berkali-kali lebih cantik dari Nessa yang dulu pernah ia kenal. Namun, prinsip mereka yang sejak dulu menjadi jurang pemisah diantara mereka rupanya tak lekang oleh waktu, walau ketertarikan diantara mereka sangat sulit mereka lawan. Bagas yang menganut budaya Barat, sementara Nessa yang menjunjung tinggi budaya Timur. Mungkinkah bisa bersatu? *** "Mungkin, aku tidak akan pernah bisa memberikan apa yang kamu inginkan, Nessa. Karena seperti yang kamu tahu aku tidak tertarik dengan komitmen dan sama sekali tidak meyakini sebuah mitos bernama cinta." "Kalau begitu, lepaskan pelukanmu biarkan aku pergi sekarang juga." "Itulah masalahnya Nessa, aku tidak ingin kamu pergi, mungkin sedikit egois, tapi itulah kenyataanya," "Bukan sedikit tapi sangat, sangat egois, Bagas. Kamu menginginkan tubuhku, menginginkan aku selalu di dekatmu dan melarang siapa pun mendekatiku, tapi kamu tidak tertarik untuk memilikiku." "Apakah seminggu ini, sikapku padamu kurang meyakinkanmu kalau aku sangat tertarik untuk memilikimu?" "Aku hanya melihat, keegoisanmu." "Tentu saja aku ingin memilikimu, Nessa. Bukankah aku pernah berkata padamu kalau aku akan memilikimu sesuai dengan keinginanku. Sekarang jika kamu ingin kita saling memiliki, maka terimalah tawaranku. Jangan pernah gunakan perasaanmu dalam hubungan ini, kita tinggal nikmati saja kebersamaan kita. Jangan pikirkan hari esok, cinta dan pernikahan. Tidak ada kesenangan yang menjanjikan dalam kehidupan seperti itu," "Aku pun bersedia menjadi milikmu, tapi 'memiliki' dalam versi aku, yaitu saling memiliki yang diawali dengan cinta dan pernikahan, karena kata 'memiliki' versimu, bukan definisi yang aku inginkan." kata-kata Nessa tegas dan mantap, niat untuk membawa Bagas pada prinsipnya kembali berkobar, walau tidak yakin akan berhasil tapi ia akan tetap mencobanya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines