When We Were Teenager

When We Were Teenager

  • WpView
    Reads 596
  • WpVote
    Votes 75
  • WpPart
    Parts 15
WpMetadataReadOngoing2h 10m
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jun 23, 2016
WpInfo
Fiction
Social Themes
----- "Menjadi seorang remaja adalah waktu yang menakjubkan dan waktu yang sulit. Di saat itulah aku memiliki persahabatan terbaik dan patah hati terburuk."-Kamala Ramania "Selama masa remaja, aku itu emosional. Aku bisa benar-benar naik atau turun."-Reva Padmarini "Sebagai seorang remaja, aku benar-benar buruk dalam mengekspresikan diri. Dan aku benci itu."-Wira Danadyaksa "Aku seorang remaja. Jadi, aku melakukan apapun sesuka hatiku. Apa itu salah?"-Azel Hartawan ----- Jadi, bagaimana kisah masa remaja mereka?
(CC) Attrib. NonComm. NoDerivs
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Sampai di titik, "Hallo" lagi
  • Tale of Us
  • Rival ku,soulmate ku.
  • Eyes Contact [Jefri Nichol]
  • Hujan Rinduku (Keluarga, Cinta, dan Impian) ☑️
  • DIRGANTARA
  • When words fade
  • Semesta Yang Melarang (C)
  • My Perfect Husband
  • Unspoken Things

🥀 Zaya dan Fharis tumbuh bersama sejak kecil. Mereka selalu berangkat ke sekolah bareng, pulang bareng, ketawa bareng, dan saling tahu segalanya. Namun semuanya berubah sejak satu hari, hari saat Zaya akhirnya berani jujur tentang perasaannya... hari dimana Zaya blak-blakan bilang, "Aku suka kamu." Dan sejak saat itu juga, dunia mereka mendadak hening. Beberapa tahun kemudian, semesta mempertemukan mereka lagi lewat tugas sekolah yang memaksa mereka duduk berdua. Canggung, kikuk, tapi masih ada tawa yang sama. Di tengah hujan, lampu padam, dan tumpukan kertas sejarah, keduanya perlahan menemukan satu hal bahwa beberapa hubungan tidak perlu diulang untuk bisa terasa hangat lagi, bersamaan dengan kenangan yang ternyata tidak pernah benar-benar hilang. Mungkin mereka memang tidak ditakdirkan untuk "kembali seperti dulu" dan Zaya pikir mereka akan selamanya asing. Tapi ternyata, beberapa cerita cukup berhenti di satu titik titik di mana akhirnya dia bisa senyum dan bilang- "halo lagi." 🌧️ Semua terasa sangat luucu, hangat, dan sedikit menyakitkan, Sampai di titik, "hallo" lagi adalah kisah tentang dua sahabat yang belajar bahwa tidak semua kehilangan harus diakhiri dengan selamat tinggal, kadang juga cukup dengan sapaan kecil yang tertunda. 𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟 ──── ୨୧ ──── zy

More details
WpActionLinkContent Guidelines