Rio & Ria
  • WpView
    Reads 32
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jul 11, 2020
Mereka melempar tatapan. Melalui tatapan itu mereka berbicara. Saling mengutarakan isi hati, saling berkeluh kesah, saling berkata jujur, dan saling menyampaikan hal yang mungkin tak bisa diucapkan melalui mulut. Lambat laun benih-benih perasaan mulai tumbuh di antara persahabatan mereka. Awalnya mereka merasa inilah pelengkap segalanya, tapi pada akhirnya, kebahagiaan itu dipertimbangkan kembali. Jika masa depan sudah ada di depan mata, apa yang harus mereka putuskan? Kadang terlalu lama bersama tidak menjamin kebersamaan abadi nantinya. Copyright © 2019 by Jessica Claudia.
All Rights Reserved
#127
wattysid
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Lovakarta
  • Greška
  • DEVIAN [END]
  • OUR STEP
  • The Beginning✔
  • Anugerah Patah Hati [COMPLETE] ✔
  • INTUISI [END]
  • 𝚂𝙴𝙽𝙸𝙾𝚁✔
  • Everything Between Us (ON GOING)
  • So Far Away ✔✔✔
Lovakarta

[COMPLETED] Lovakarta #1 Julukannya Hujan istimewa. Soalnya, Hujan yang satu ini selalu di damba-damba. 999 dari 1000 hati menyatakan ketertarikan padanya. Seharusnya, cerita ini mudah. Hujan tinggal pilih saja salah satu dari 999 hati yang ada. Tetapi, Hujan justru mengambil alur susah. Ia malah jatuh cinta pada 1 hati yang menyatakan penolakan mentah-mentah. Rintik yang menggelitik. Gerimis yang manis. Sampai Hujan deras yang melenyapkan panas. Hujan mencoba semua intensitas berusaha membasahi sang hati dengan kesejukannya. Hanya saja, tingkah sang hati yang selalu menghindar dari Hujan membuat jalan cerita jadi rumit pangkat tiga! Menariknya, beribu luka yang diterima Hujan istimewa sama sekali tidak dianggapnya sebagai alasan untuk menyerah... **** [COMPLETED] Lovakarta #2 Kata orang, cinta tak ubahnya sebuah impian. Butuh pengorbanan. Menuntut diperjuangkan. Tapi, pernahkah kau sampai menjadi Hujan sepertiku? Yang terus merintik, hanya untuk membuat dia tertarik. Selalu bersikap semanis gerimis, bahkan setelah berkali-kali ditepis. Juga tidak pernah lelah menderas, meski sama sekali tak dapat balas. Sungguh. Cinta ini bukan hanya menjadi ketidakadilan untukku. Lebih dari itu, aku tersakiti begitu jauh. Sampai tidak bisa membedakan apakah yang sedang kujalani adalah serangkai cerita, atau sekedar sebuah pengalaman terluka? Tapi, walau menjadi Hujan adalah patah hati terbesarku. Semua itu tidak akan membawa pengaruh. Tidak pula merubah sesuatu. Sebab, ujung-ujungnya, aku tetaplah aku. Si Hujan yang cuma tahu satu. Jatuh.

More details
WpActionLinkContent Guidelines