Darah Putih-Abu

Darah Putih-Abu

  • WpView
    Reads 3,436
  • WpVote
    Votes 29
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jan 4, 2016
WpInfo
Fiction
Romance
Panggil aku Rama. Aku ingin bercerita tentang sekolahku. Sekolahku adalah tempat terbaik untuk bertumbuh: Guru-guru, dengan pakaian rapi dan rambut kelimis, tersenyum ramah menyambut semua murid yang memasuki kelas penuh harapan. Guru, begitu kami menyapa mereka, seperti makna sesungguhnya: Teladan utama yang benar-benar patut digugu dan ditiru. Di kelas, pelajaran-pelajaran disampaikan dengan cara yang menyenangkan. Murid-murid saling membantu-mengulurkan tangan untuk siapa saja yang terjatuh dan menyapa hangat saat temannya kesepian. Tak ada kata-kata kotor di sana, tak ada umpatan dan caci-maki, semua yang terlontar dari lidah semua orang bagai madah yang mengalun indah. Di sekolahku, ada cinta dan persahabatan, juga hal-hal lainnya yang karena begitu indah sekaligus menyenangkan menjadi tak bisa dilukiskan kata-kata. Ya, tak tertolak, sekolahku adalah tempat yang paling tepat untuk menempa diri dan menyiapkan masa depan! Di sanalah kami mendapatkan ilmu pengetahuan, pengalaman-pengalaman, kebenaran-kebenaran. Di sekolahku, tak ada hal lain kecuali baik dan benar, dari logika, etika, hingga estetika. Tak ada yang lebih baik dari tempat ini. Semuanya berjalan tertib dan sesuai harapan. Barangkali, jika kitab suci belum selesai dituliskan, sekolahku bisa diandaikan sebagai surga di dunia! Di sekolahku, saat murid-muridnya lulus, mereka bisa bergembira merayakan keberhasilannya dalam pesta apa saja yang paling membuat mereka berbahagia. Setelah semua itu, mereka akan mendapatkan pekerjaan yang baik, menjadi orang baik-baik, sukses dan kaya raya, mendapatkan jodoh dan berkeluarga, hidup bahagia selama-lamanya... Itulah sekolahku. Jika tak percaya, datanglah ke sana: Maka kau akan menemukan kebohongan-kebohongan semacam ini, lebih banyak lagi!
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Langit Langit Damaskus Bersaksi
  • The Golden Age
  • ANTARA KITA DAN CERITA
  • Veil Of Elysian
  • 𝐎𝐀𝐒𝐈𝐒 𝐌𝐄𝐍𝐆𝐈𝐊𝐈𝐒?
  • Sekolah Tanpa Sekolahan
  • [BUKAN] Couple Goals 2
  • ALENCHA [END]
  • RIMBA MERUN

"Ketika peluru tak lagi bersuara, maka sunyi akan berbicara. Dan langit akan bersaksi-siapa yang tetap bertahan, dan siapa yang memilih menyerah." Damaskus bukan sekadar kota. Ia adalah saksi bisu dari cinta yang berani, pengorbanan yang sunyi, dan harapan yang tak pernah patah meski langit runtuh berkali-kali. Fathir, seorang pendidik idealis, bersama Najwa-sahabat seperjuangannya yang penuh keteguhan-mendirikan Harapan Langit, sebuah sekolah di jantung konflik Suriah. Di antara reruntuhan, tawa anak-anak, dan bayang-bayang pengkhianatan, mereka tak hanya melawan keterbatasan, tapi juga prasangka dan kepentingan tersembunyi. Namun, ketika kebenaran dipelintir dan kepercayaan mulai goyah, satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan mereka hanyalah keteguhan pada nilai yang mereka tanam sejak awal: bahwa pendidikan adalah bentuk tertinggi dari perlawanan. Apakah cinta, iman, dan cita-cita cukup kuat untuk menahan badai yang datang dari segala arah? Atau... langit akan bersaksi bahwa mereka pun bisa runtuh? ---

More details
WpActionLinkContent Guidelines