Pelantikan Di Villa

Pelantikan Di Villa

  • WpView
    přečtení 753
  • WpVote
    Hlasy 111
  • WpPart
    Části 11
WpMetadataReadRozepsáno
WpMetadataNoticeNaposledy publikováno stř, dub 26, 2017
Dengan Raut wajah sih Rilly dan Rina,seakan dia ketakutan kalau dia mendengar ada suara anak yang menangis di Villa. Hampir setiap hari mereka mendengar suara-suara aneh didekat Rumah antar Rina dan Rilly. ~~~~~~~~~~~~ Yang berawal gak disengaja jadi deket cuman gara" hampir setiap hari berangkat bareng dan jalan-jalan berduaan. Dan seketika Rina agak Cemburu,karena Rilly tidak tau apa-apa kalo Rina Suka sama Beni. Ada juga orang ketiga yaitu Dilla,dia kakak kelas di sekolah,dia juga Suka sama Beni,tapi sih Dilla ini akan terus ngeganggu Rilly sampe rencana dia berhasil. Tapi dan ternyata rencana Dilla gagal. Dan gimana selanjut lanjutnya? "PELANTIKAN DI VILLA"
Všechna práva vyhrazena
Připoj se k největší komunitě vypravěčůZískej personalizovaná doporučení příběhů, ukládej si oblíbené do své knihovny a komentováním i hlasováním buduj komunitu.
Ilustrace

Taky se ti může líbit

  • Katanya Jadi Anak Terakhir Enak - WOONHAK [Terinspirasi dari kisah nyata]
  • THAT'S MY IDOL (orinee😋😋)
  • Wayang dan Kamu, Lilynn [End]✓✓
  • RIRI NATARI [END]
  • She's mine (lilynn) END.
  • Don't Talk About Money
  • Perjodohan (Orine) - [HIATUS!]
  • ALRIN

Sejak hari itu, ayah tak pernah lagi menginjakkan kaki ke rumah. Tapi bayangannya masih menempel di tiap sudut di kursi kayu ruang makan, di seragam kerja yang masih tergantung di lemari, bahkan di kepala Wilano yang mulai sulit membedakan antara rindu dan benci. Dan suatu sore, saat langit menggantung kelabu dan gerimis turun perlahan, ledakan itu terjadi. "Gue bakal ke rumah Ayah bentar, mau ngobrol langsung," kata Rian pelan, mengambil jaketnya di gantungan. Suaranya hati-hati, tapi cukup untuk membakar emosi Seno yang sejak pagi sudah seperti bom waktu. "Ngapain lo ke sana?! LO PILIH DIA?!" Semua yang ada di ruang tengah menoleh. Suara Seno menggelegar, membuat udara di rumah seperti bergetar. Rian menoleh cepat, matanya melebar tak percaya. "Gue cuma mau bicara, Sen. Dia tetap ayah gue juga. Lo gak bisa larang gue ketemu orang yang selama ini ngerawat gue!" sahut Rian, nadanya naik. "Dia bukan ayah lo. Dia pengkhianat. Dan siapa pun yang masih mau bela dia... gak layak tinggal di sini." Suasana berubah tegang. Jaya berdiri setengah badan, siap menengahi kalau sewaktu-waktu keadaan makin memanas. Theo mengerutkan alis, tapi tetap tak banyak bicara. Wilano menatap semuanya dengan mata membesar. Dia tak mengerti, mengapa semuanya harus sejauh ini. Leon, yang sedari tadi diam, berdiri perlahan. "Kalau lo pikir begitu... gue ikut Bang Rian."

Více informací
WpActionLinkPokyny k obsahu