Pembunuh

Pembunuh

  • WpView
    Membaca 269
  • WpVote
    Vote 6
  • WpPart
    Bab 5
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sen, Jan 11, 2016
"Katakan, apa motif sodari membunuh ayah kandung sodari ?" Tanya petugas kepolisian kepadaku dengan nada yang ditekan, membosankan. "sodari tidak mendengar ?" ulangnya dengan nada yang lebih tinggi. Aku menatapnya dengan perasaan muak, "itu takdir pak," gumanku seraya menundukan kepala. "sodari jangan main-main dengan hukum, jika sodari tidak mengatakan dengan benar sodari akan dikenakan hukuman berlapis. Cepat katakan !!!" jerit petugas kepolisian itu, matanya garang, seakan mau keluar, sedangkan kumisnya yang lebat menutupi sebagian bibir atasnya, membuatnya semakin buruk dimataku. "Ya, itu adalah cita-cita terbesar dalam hidup saya pak, apa tidak boleh jika saya mempunyai cita-cita yang seperti itu pak ?" ungkapku dengan nada yang sesantai mungkin, malas sekali meladeni bentakan-bentakan dari petugas introgasi itu, semuanya sangat memuakan. Sekilas kulihat ekspresi petugas itu, saat ini matanya sudah keluar kukira. Kemudia pukulan hebat mendarat di meja coklat nan reot itu, melampiaskan amarah yang tak mungkin dilakukan kepada seorang tersangka wanita sepertiku.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Paradise
  • ALVASANDRA
  • Dear Heartbeat [COMPLETED]
  • Full Of Scratches
  • Become Baby Boy✓
  • AZELLO [END]
  • AKSARA Garis Pertemuan
  • KEENAN [END]
  • TEOLOGI CINTA
  • The Chance
Paradise

(SUDAH TERBIT) PESAN DI SHOPEE LOVELYMEDIA. "Lihat saudaramu yang lain! Mereka berprestasi! Tidak buat onar! Membanggakan orang tua!" Baginya yang terbiasa dibandingkan dengan saudara sendiri, mendengar perkataan itu tak lagi menimbulkan sakit meski sesekali menangis dalam diam. "Woi cupu! Beresin nih sekalian buang sampahnya. Awas aja lo masih bisa santai disini." "Orang kayak lo emang pantes dapet temen?" "Makanya gak usah belagu! Dasar babu!" Lambat laun perkataan mereka tak lagi berefek pada hatinya, apa ini? Apakah ini yang disebut mati rasa? Ternyata ... setelah mati rasa pun ia tetap merasakan pahit yang sulit dijelaskan. Mengapa begitu banyak orang yang membencinya? Apa salahnya? Di mana letak kekurangannya? "Urus diri lo sendiri!" "Dasar manja!" "Qi, urusan abang bukan cuma kamu. Jangan egois." Ah, begitu. Ternyata di mata ketiga saudaranya pun ia terlihat manja dan menyusahkan. Bagaimana ini? Hatinya kini sudah pecah berkeping-keping, ia tak lagi merasakan dirinya sendiri. Harapannya ... sungguh sederhana, semoga kelak Ayah dan ketiga saudaranya dapat kembali menyayanginya. Semoga masa SMA-nya bisa seindah cerita novel yang ia baca. Semoga keinginan itu dapat ia rasakan sebelum ajal menjemputnya dengan paksa. .... Warning: violence, harsh word, bullying, suicide, etc. All picture from pinterest.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan