1 jam berada di dunia ini, kepalaku sakit. menanyakan pada diriku sendiri tentang apa yang terjadi.
1 hari di dunia ini aku yakin telah terjebak kedunia ini, ingin rasaku berlari lalu menembus waktu.
1 minggu disini aku mulai menerima ini semua, mungkin aku hanya halusinasi waktu itu.
1 bulan berada disini, bagiku ruangan yang gelap dan kosong sudah dihidupi lilin-lilin hingga binar itu kembali ada.
1 tahun disini, aku tau aku tidak gila waktu itu... kini aku dapat memilih. apakah aku akan tetap tinggal atau kembali kedunia ku yang nyata.
namun... apakah aku akan memilih kesempatan ini untuk kembali?
ini tentang aku yang kini harus memilih.
-memilih kembali bersamanya atau disini bersamamu.
aidan, haruskah aku pergi?
aidan, haruskah aku kembali?
aidan,pagi ini kutemukan seragam biru putih dilemariku, buka rok abu ku...
aidan,pagi ini lagi-lagi aku masih terjebak. tolong aku...
aidan,aku pergi kewaktu dimana kita belum bertemu...
aidan,aku pergi kewaktu kau belum mengenalku...
aidan,kau tetap ada disini namun dengan kisah yang berbeda...
aidan, aku belum yakin akankah aku mengucap kata selamat tinggal disajak ini...
aidan... aku berada didunia yang berbeda, janji itu menarikku darimu
entah tujuannya baik atau buruk, tergantung dengan pilihanku.
kalau akhirnya pilihanku tak membawa diriku menemuimu, kau boleh mengenangku sebagai orang yang pernah hadir dua kali dalam hidupmu.
atau kau boleh melupakanku jika aku bukanlah orang yang berhak selalu kau ingat.
-AYSI
60 Kapitel Abgeschlossene Geschichte Erwachseneninhalt
60 Kapitel
Abgeschlossene Geschichte
Erwachseneninhalt
"Cinta ini salah," suaranya bergetar, hampir tenggelam dalam gemuruh ombak kecil. Namun, cinta di matanya tak bisa dipadamkan.
"Tapi aku tak bisa berhenti mencintaimu," jawab yang lain, dengan desahan putus asa, seperti seseorang yang sudah lama terjebak dalam dilema yang tak berujung.
Mereka saling menatap, kedua hati yang dulu begitu yakin kini dipenuhi ketidakpastian. Rahasia yang mereka temukan terlalu berat untuk diterima. Setiap kenangan yang mereka ciptakan bersama kini terasa terkotori oleh satu kebenaran yang tak terhindarkan, mereka terhubung bukan hanya oleh cinta, tetapi juga oleh darah yang sama. Ibu yang selama ini mereka kira jauh dari kehidupan masing-masing, ternyata adalah satu orang yang sama.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" bisik salah satu dari mereka, suaranya pecah, penuh dengan ketakutan yang tak bisa disembunyikan.
Yang lain terdiam, menunduk, terlalu sakit untuk menjawab. Semua rencana, semua harapan, kini terasa sia-sia. Tak ada jalan keluar dari kenyataan ini. Cinta mereka, yang dulunya penuh harapan, kini berubah menjadi beban yang tak terelakkan.
Namun, meski kenyataan itu begitu pahit, perasaan di antara mereka tetap ada, mendesak untuk diakui.
Bagaimana mereka bisa terus mencintai ketika darah yang sama mengalir di nadi mereka?
Malam itu adalah awal dari perpisahan yang tak terelakkan. Takdir telah memisahkan mereka sebelum mereka sempat benar-benar bersama. Dalam keheningan malam, cinta mereka terbungkus oleh bayangan kelam, menyisakan hanya jejak air mata dan hati yang hancur.