Océanna

Océanna

  • WpView
    Reads 3,039
  • WpVote
    Votes 323
  • WpPart
    Parts 14
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jun 29, 2018
WpInfo
Fiction
Romance
Aku tidak mengatakan kalau aku tidak memiliki apa-apa. Aku tidak mengatakan kalau aku akan pergi untuk selamanya. Sejujurnya, terkadang ini semua terlalu berat untuk kuhadapi. Sometimes, I feel like it's too much. Tenang, aku tidak akan melakukan sesuatu yang bodoh. Karena aku tahu, suatu saat semuanya akan baik-baik saja. Semuanya harus baik-baik saja bukan? Kalau tidak, tak ada satupun orang yang berhasil melewati masa-masa seperti ini. Tapi untuk saat ini, hanya saat ini, semuanya sangat menyakitkan. But let me remind you that life is sucks. And no matter how much we want it, some stories just don't have a happy ending. ⚠️ this story contains a lot of graphic scenes of self-harm, basically full of trigger warnings, and also a lot of swearing ⚠️ #SelfharmIsNoJoke #FreeMentalIllness #WeFightOn All Rights Reserved® 2016 © Stella F. Alessandra
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Hopeless
  • Self Injury's(complete)✔
  • Self Harmlove [END]
  • Breathe
  • 15th Voltage [Tegangan 15] ✔(COMPLETED)
  • S E N A N D I K A  2.0 | ✔
  • 𝐀𝐍𝐎𝐍𝐈𝐌 [𝐖𝐇𝐎'𝐒 𝐈𝐍 𝐓𝐇𝐄 𝐖𝐀𝐓𝐄𝐑?]
  • INTUISI [END]
  • Road Trip || NCT DREAM 00 Line
  • LIMERENCE
Hopeless

[COMPLETED] "Whoever told you that life would be easy, I promise that person was lying to you." --Kondisi dimana tidak memiliki ekspetasi tentang hal-hal baik yang akan terjadi dan juga kesuksesan di masa mendatang. [Definition of Hopeless] Apakah ini tentang kisah cinta masa remajaku? Astaga, bahkan aku tidak yakin tentang cinta itu nyata. Yang aku tahu hanya luka dan luka. Itu saja. Tangisanku bukan tangisan patah hati, lagipula perasaanku sudah mati. Jiwaku diasuh oleh sepi, hingga teman terbaikku hanya rasa sendiri. Setidaknya aku punya mereka, orang yang mengajariku bahwa aku tidak sendirian. Meskipun ada kalanya aku menyerah dan pasrah. Apakah akhir ceritaku ini bahagia? Apakah aku akan terus berkawan dengan tangisan, hingga aku lupa cara untuk mencari kebahagiaan? Aku hanyalah satu dari ratusan orang yang sakit secara jiwa, aku bersahabat dengan sesuatu yang mereka sebut depresi. Hingga yang kukenali hanya keputusasaan pada masa depan diri sendiri.

More details
WpActionLinkContent Guidelines