Beradapatasi di tempat yang baru, bukan lagi hal yang tabu bagiku, bak benalu, aku sering kali berpindah inang untuk tetap menjalani hidup. Tidak ada yang aku sesali, karena dari semua tempat yang pernah aku kunjungi, ada banyak kenangan yang begitu berarti, sampai-sampai kenangan itu tidak akan bisa di ulang lagi. Aku sangat senang memulai hari di tempat asing. Namun, pengembaraanku kali ini berakhir dengan kesakitan tanpa obat. Aku terluka karena gagal memahami lingkungan yang aku tinggali. Aku salah mengenali seseorang, seseorang yang aku anggap sahabat menjadi belati tajam yang siap menggorok kewarasan. Satu hal yang aku tahu, belati itu tercipta untuk membuat luka cacat pada sesuatu yang mendekati sempurna, maka aku paham akan satu hal, menjadi sempurna di mata banyak orang adalah bencana.
More details