We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Lelaki Dan Perasaan Itu

Lelaki Dan Perasaan Itu

  • WpView
    Reads 49
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Wed, Jan 27, 2016
WpInfo
Fanfic
"Cinta memang butuh waktu, tidak harus datang dan pergi begitu cepat. Semua butuh proses, proses yang panjang atau tidak biarkan waktu yang menjawab dan mempersatukan. Cinta itu hanya perlu sabar menunggu dan bertawakal"
All Rights Reserved
#75
agst
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Namanya Sabita [Terbit]
  • That Day (Belum Revisi)
  • My Eternal Moon [ End ✔️]
  • Remember I LOVE U
  • Please choose me
  • Kisah Klasik Dua Bulan Terakhir
  • Masih Belum ( Slow Update )
  • Dari Bangku Belakang
  • Kelas A [End]
  • Strong Girl [TELAH TERBIT]

Ini tentang Sabita, pemilik senyum pura-pura. Senyumnya manis, tapi ada kesedihan yang ia coba tutupi. Pindah sekolah dari Bandung ke ibu kota menjadi awal kehidupan barunya dimulai. Satu yang ia sukai saat menatap langit malam, bulat sabit. Menurutnya melihat bulan sabit sama saja melihat orang yang ia cintai tersenyum. Sabita menganggap ayahnya sedang tersenyum padanya dan mengawasi di atas sana. Disekolah baru, Sabita tak menyangka akan begitu banyak orang yang menyayanginya, sampai ia bertemu dengan penghuni bumi menyebalkan bernama Aditya. Cowok super dingin yang selalu membuatnya kesal. tapi satu yang Sabita tau, Aditya baik. _____ "Nama?" tanya cowok itu dingin. "Maksudnya, nama aku, Kak?" "Siapa lagi, hmm?" "Sabit, Kak." "Oh, Bulan." "Bukan Bulan. Nama aku Sabita, gak pake bulan sabit." "Oh, yaudah." Sabita diam. "Gak ada niatan pindah tempat?" "Siapa?" "Yang nanya. Lo, lah." "Oh, maaf." ____ "Senyum lo manis, tapi percuma kalo itu cuma pura-pura. Orang lain mungkin ketipu, tapi gue nggak bodoh." - Aditya - "Bukan pura-pura, tapi lebih baik menyembunyikan luka, dibanding mengharap belas kasihan." - Sabita -

More details
WpActionLinkContent Guidelines