"I tak kisah kalau you tak ambil berat pasal I. Tapi pasal anak-anak, tolonglah." -Pengiran Bini Wardatul Irina Kalau mendung bisa cerah. Kalau pelangi bisa hujan mencurah. Melayari bahtera rumah tangga sebagai pasangan diraja bukanlah seindah pasangan romantis novel cinta. Tautan cinta Irina dan Mateen semakin erat setelah perkahwinan mereka mencecah 8 tahun lamanya. Disinari pula dengan gelak tawa, manis wajah, bijak akal si dua cahaya mata. Putera genius, Pengiran Anak Waheedul Shah Iskandar Bolkiah dan puteri manis, Pengiran Anak Puteri Iliya Mariah Lailatul Bolkiah. Kerana tanggungjawab kepada rakyat harus ditunaikan, kasih kepada cahaya mata dicurahkan, kemanisan asmara Irina dan Mateen pudar jua. Demi putera dan puteri, mereka mengharungi badai ombak bersama. Terkapai-kapai mencari kemanisan yang semakin pahit dimamah masa. Talak menunggu. Tunggu untuk diucap dibibir. Cinta tidak bisa dipaksa. Asmara tidak bisa disandiwara. Mampukah mahligai cinta Irina dan Mateen kekal utuh bersama saham akhirat mereka? Adakah mereka mampu untuk berlayar kembali dengan badai ombak yang menghentam pantai? Semuanya di sini. *Originally created by Dayangku Hajar. No plagiarism.*
More details