Lee Min Hoo Saranghamnida

Lee Min Hoo Saranghamnida

  • WpView
    Reads 781
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jan 30, 2016
WpInfo
Fiction
Fantasy
Tok.. Tok.. Tok!!! terdengar suara pintu kamarku diketuk. Saat itu hariminggu pukul 6 pagi. Namun aku masih betah di dalam kamar tanpa beranjak dari tempat tidur. Seperti biasa aku sedang asyik melihat-lihat foto Minho oppa di laptop yang jumlahnya sudah tak terhitung. Aku memang fans beratnya Minho oppa foto-fotonya yang dipajang hampir memenuhi seluruh dinding kamarku. Aku selalu bermimpi suatu saat bisa ketemu dia secara langsung, bisa foto bareng plus minta tanda tangannya. Memang bukan cuma aku yang ngefans sama Lee Min Hoo, tapi di antara teman-temanku cuma aku yang ngefansnya sampaitergila-gila begini."Icha kamu masih tidur?" tanya mama dari balik pintu,"Nggak kok Ma aku udah bangun dari tadi.." jawabku sambil menyimpan laptop ke atas meja belajar."Cepetan keluar Cha bantuin Mamamasak nih!!""Okeee siap Ma, I am comiiiiingg..!!!" aku pun segera ke luar kamar dan bergegas menuju dapur tempat mama masak."Umm..nasi goreng sosis ya Ma? wangii bangett.." tanyaku sambil mengendus-endus
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • 1, Bunga di Taman Hati
  • Ketua Osis
  • Because of Love (Yizhan)✅
  • AFFAIR (yizhan) ✅ End
  • PAPARAZI
  • HatiKu Hanya Untuk Kakak KelasKu "JJK"
  • Ketos Park Jisung & Me
  • The Untold Word
  • Single Moms (End)
  • Without Love?

"Fabian..." Mami menatapku. "Yakin, Ian mau kalau dijodohin?" "Kalau semua ikhlas, aku yakin, Mi." Aku terus menatap mata ibuku. "Sayang, kamu sudah dijodohkan sejak sebelum kamu lahir." Aku tersentak. Tergugu tanpa kata. Tanpa bisa kucegah, aku memasang wajah bodoh. "Cerita singkatnya, jodoh Ian ini cucu teman Opa." "Gimana bisa?" Aku masih memasang wajah bodoh itu. "Waktu Opa dan temannya Long March Divisi Siliwangi, mereka berdua terpisah dari rombongan, lalu kena ranjau darat. Pas masa kritis kayak gitu, mereka sepakat mau ngejodohin anak-anaknya atau cucu-cucunya." Mami membuka tasnya. Mengambil selembar amplop lalu menyodorkan amplop tersebut ke arahku. "Ini foto calonnya." "Aku setuju, Mi." Aku tetap menatap wajah Mami. "Ian nggak lihat dulu anaknya?" "Aku yakin sama pilihan Mami. Apalagi ini kesepakatan semua." "Ian lihat dulu deh..." Meski merasa tak butuh melihat wajah yang tersembunyi di balik itu, tetap saja akhirnya kubuka amplop tersebut. Haahhh??? "Mami...??" Kupandang wajah Mami dengan wajah bodohku yang terbaik, yang terbodoh. "Nggak salah nih, Mi...?" "Kenapa? Ian berubah pikiran?" "Masih ABG beginiii...!!!" "Oh... itu foto dia masih kelas X." "Sekarang?" "Balik foto itu," perintah Mami tegas. Perlahan kubalik foto itu. Kembali aku terkesiap. "Mami...?" Kupasang wajah bodohku sekali lagi. "Ini beneran?" "Ya benar lah." "Ini mahasiswa aku, Mi.... Sekarang tingkat satu. Tahun depan pasti masuk kelas aku." "Sepertinya begitu," jawab Mami maklum. "Ada masalah dengan itu?" Aku tergugu. Namun aku merasa harus bertanya. "Mi, dia mau sama aku? Dia mau dijodohin sama dosennya?" "Nah, pertanyaan bagus." Mami menepuk bahuku. "Dia sama sekali tidak tahu soal perjodohan ini. Jadi sekarang bola di tangan Ian. Kamu mau bawa ke mana bolanya. Terserah." Haaahhh??? ***

More details
WpActionLinkContent Guidelines