EXPECTED ✔

EXPECTED ✔

  • WpView
    Reads 472,831
  • WpVote
    Votes 25,587
  • WpPart
    Parts 26
WpMetadataReadComplete Sun, May 22, 2016
WpInfo
Fiction
Romance
Salahkah aku jika aku memiliki kedua orangtua yang menyayangiku tanpa harus melihat statusku yang sebenarnya? Salahkah jika aku hidup dalam ketenangan dan kedamaian? Salahkan jika aku mencintai seseorang yang juga mencintaiku apa adanya? Apalah arti hidup ini jika aku tidak memiliki semuanya. Hidup yang tentram, kedua orangtua yang menyayangiku, dan juga pria yang mencintaiku apa adanya. Aga. Sejak aku mengenali pria itu, aku jadi yakin bahwa hidupku begitu berarti. Aku tau pada awalnya, dia tidak menyukaiku. Apalagi kepopulerannya yang dikenal sebagai anak pemilik sekolahku dengan wajah dan tubuhnya yang mempesona. Aku ingin hidupku sempurna. Hidup tidak dalam kesendirian, hidup yang selalu tentram, hidup yang selalu ditumpahkan bersama dengan kedua orangtua kita, hidup yang selalu dicintai apa adanya.
All Rights Reserved
#43
kylie
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Juan [REVISI]
  • BULAN [Selesai]
  • Close Your Eyes (Sehun - Jieun) (End)
  • You're Here, But Not For Me
  • SANDYAKALA ANGKASTA
  • Di Balik Nama Zella
  • GERA (SUDAH TERBIT)
  • JANUARGHA

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines