Abel & Miko

Abel & Miko

  • WpView
    Reads 9,935
  • WpVote
    Votes 718
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Mon, Feb 1, 2016
[1/1] Sani dan Nisa mendengus tak suka. "Namanya pendapat, beda-beda tiap orang. Indonesia itu negara demokrasi, jadi semua orang bebas mengeluarkan penda-pat." Suara Abel semakin mengecil di akhir kalimat. Ia kaget, ada Miko di hadapannya. Nisa ingin tertawa melihat ekspresi Abel. Ia terbatuk untuk menyembunyikan tawanya. "Eh, Miko. Sini-sini duduk!" Sani menarik mundur kursi di sebelahnya. Miko duduk di sebelah Sani. Ia menepuk pundak Sani, lalu tersenyum kecil pada Nisa. "Bel, balik sekolah ada acara?" Cover by : @dirtybandit Copyright © Februari 2016 by Namicoos_
All Rights Reserved
#155
abel
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Fractured Cheerfulness (On Going)
  • Kisah yang Tertunda
  • Two Rebels, One Love
  • ADORKABLE
  • Sweet Combat
  • ASA [COMPLETED]
  • Caramel
  • K I N G [Completed]
  • PERFREAKTION
  • perfect love

"Lo beneran bego, Fin. Gimana sih, gini aja lo ga ngerti-ngerti?" Satria menggelengkan kepala frustasi. Alfina cuma bisa cengengesan. "Jangan bosen ngajarin gue, ya." Di balik senyum yang tak pernah hilang, Alfina Adzra Wardana adalah anak yang terjebak di antara dua dunia. Dunia di mana dia terlihat ceria, ekstrovert, dan penuh semangat. Tapi ketika bel tanda pelajaran berbunyi, dia lebih memilih untuk menghindar daripada berhadapan dengan angka, rumus, atau teori-teori yang malah bikin pusing. Matematika? Ekonomi? Hanya kata-kata kosong yang dia coba terjemahkan dengan senyum yang terus dipaksakan. Satria, cowok yang dipaksa jadi tutor pribadi Alfina, udah sampai titik frustasi. "Lo bener-bener bego!" katanya, meskipun di balik itu, dia enggak bisa menahan rasa kagum pada dunia Alfina yang penuh warna dan seni. Karena ada satu hal yang Alfina tahu dengan pasti: dunia seni adalah tempat dia bisa bersinar. Setiap goresan kuas di kanvas adalah tempat dia bisa bebas, tanpa perlu penilaian orang lain. Tapi di rumah dan di sekolah, ada satu sosok yang terus dibandingkan dengan Alfina-adiknya Thalita, yang cerdas dan selalu jadi juara kelas. Alfina merasa dirinya selalu kalah. Di balik kebingungannya dan perasaan tak cukup, Alfina mencoba menemukan cara agar bisa berjuang untuk dirinya sendiri. Tapi, apakah itu cukup? Dan di tengah semua itu, apakah Satria, yang frustrasi mengajar, bisa melihat potensi besar dalam diri Alfina yang selama ini dia abaikan? Apakah Alfina bisa melepaskan diri dari bayang-bayang adiknya? Apakah Satria bisa melihat lebih dari sekadar kegagalannya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines