THREE YEARS - *chapter 1-rahasia*

THREE YEARS - *chapter 1-rahasia*

  • WpView
    Reads 28
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Feb 2, 2016
Membuka mata perlahan-lahan memperlihatkan langit-langit dan lampu diatasnya, lalu melihat tangan kirinya yang terpasang infus dan dihidungnya terpasang oksigen. Shina melihat jendela, seorang wanita berdiri dijendela memandang langit yang berada diluar jendela. "Kakak.." dengan nada yang lemah Shina memanggil wanita tersebut. "Shina kau sudah sadar? Ahh syukurlah akhirnya sadar juga. Shina, kakak sudah lama menunggu kamu sadar dari koma" "aku koma? sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa aku berada disini?" "ceritanya panjang. Sebentar ya, kakak memanggil perawat dulu" 3 bulan yang lalu, Shina dan keluarganya kecelakaan yang luar biasa, hanya Shina dan kakaknya yang selamat, kakaknya sudah sadarkan diri, sedangkan adiknya harus melewati masa komanya. Kakaknya sangat histeris mendengar kabar dari rumahsakit bahwa kedua orangtuanya telah tiada, namun hanya dirinya dan adiknya yang selamat. Shina bangun dari tempat tidurnya, dan melepaskan oksigen dan infusnya. Shina pergi keluar melihat diluar rumah sakit. "Shina.. eh dimana Shina" Aima pergi keluar mencari Shina, setiba ditaman dekat rumah sakit, Shina sedang duduk sendirian. "Shina, sedang apa kamu disini, kamu belum boleh keluar dari kamarmu, ayo kita pergi dari sini, perawat sudah menunggumu untuk memeriksamu" "tidak mau" "lho kenapa tidak mau, ayo kamu harus diperiksa" "kakak, dimana ibu? " "ibu.. ibu.. oh iya ibu ada dirumah" "kenapa ibu tidak kesini? Kenapa harus kakak yang menjagaku? aku tidak suka kakak yang menjagaku" Shina pergi meninggalkan kakaknya. Aima kaget mendengar omongan yang keluar dari mulut adiknya, adiknya masih tidak menyukainya, ia tidak ingin semakin dibenci oleh adiknya karena orangtuanya telah meninggal , ia tidak tau harus bagaimana. ***
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • 𝙄𝙧𝙧𝙚𝙥𝙡𝙖𝙘𝙚𝙖𝙗𝙡𝙚 - Sehun x Yoona ✔️
  • TIME will TELL {On Going}
  • Aksara Lingga
  • Dalam Diam | Hiatus
  • Laskar Pemimpi || NCT Dream (on going)
  • 1001 Luka [On Going]
  • Cerita yang Tak Selesai ✨💔🌙 || TAMAT
  • 27 FEBRUARI
  • Vericha Aflyn ✔️

‼️F I K S I‼️ 𝙄𝙧𝙧𝙚𝙥𝙡𝙖𝙘𝙚𝙖𝙗𝙡𝙚 (adj) : tak tergantikan 🍀🍀🍀🍀🍀 "Buat Kakak," ucap seorang wanita muda mengeluarkan sebuah amplop putih yang tercantum nama sebuah rumah sakit. "Buat aku? Rumah sakit? Kamu sakit?" tanyanya yang dibalas gelengan kepala oleh sang kekasih. Angkasa mengernyitkan keningnya, tangannya meraih amplop tersebut dan membukanya. Seketika wajahnya berubah pias seolah darah direnggut paksa dari wajahnya hingga membuat pucat sempurna seiring iris kembar legamnya menelusuri deretan kata yang tertera diatas kertas putih tersebut. "Aku hamil, Kak. Kata dokter anak kembar dan umurnya sudah 3 minggu." Seiring kalimat itu terucap, nadanya merendah hampir tak terdengar kalau Angkasa tidak memberi fokus padanya. "Gimana bisa? Senja, kita baru ngelakuin itu sekali. Enggak mungkin langsung jadi. Senja, bilang sama aku. Ini bukan anak aku kan?!" "Bukan anak kamu? Kakak nuduh aku ngelakuin itu sama orang lain, iya?" "Gak mungkin. Keluargaku gak punya keturunan kembar. Gak mungkin itu anak aku, Senja! Bilang sama aku, siapa yang udah menghamili kamu?" Setetes air terjun bebas dari pelupuk mata. Hatinya terluka begitu dalam sebab kalimat yang terucap bagaikan belati yang menyayat setiap lapisan hatinya. Senja sama sekali tidak pernah menyangka jika kalimat itu terucap dari bibir pria yang kerap kali menyatakan besarnya cinta yang dimiliki untuknya. Lantas apa sekarang? Dimana rasa cinta yang selalu digaungkan di telinganya itu? Bahkan Senja mendadak kehabisan kata. Senja seperti tak mengenal sosok didepannya. Asing. "Gugurin. Kalau kamu masih cinta sama aku, gugurin. Aku bakalan tetap menerima kamu asal kamu gugurin kandungan kamu." Kalimat terakhir yang Senja dengar sebelum kaki jenjangnya membawa tubuhnya melangkah pergi dari hadapan pria yang dicintainya itu tanpa ada niatan menoleh sedikitpun ke belakang meninggalkan Angkasa yang masih diam seribu bahasa tanpa berniat mengejarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines