THREE YEARS - *chapter 1-rahasia*

THREE YEARS - *chapter 1-rahasia*

  • WpView
    Leituras 26
  • WpVote
    Votos 1
  • WpPart
    Capítulos 1
WpMetadataReadEm andamento
WpMetadataNoticeÚltima atualização ter, fev 2, 2016
Membuka mata perlahan-lahan memperlihatkan langit-langit dan lampu diatasnya, lalu melihat tangan kirinya yang terpasang infus dan dihidungnya terpasang oksigen. Shina melihat jendela, seorang wanita berdiri dijendela memandang langit yang berada diluar jendela. "Kakak.." dengan nada yang lemah Shina memanggil wanita tersebut. "Shina kau sudah sadar? Ahh syukurlah akhirnya sadar juga. Shina, kakak sudah lama menunggu kamu sadar dari koma" "aku koma? sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa aku berada disini?" "ceritanya panjang. Sebentar ya, kakak memanggil perawat dulu" 3 bulan yang lalu, Shina dan keluarganya kecelakaan yang luar biasa, hanya Shina dan kakaknya yang selamat, kakaknya sudah sadarkan diri, sedangkan adiknya harus melewati masa komanya. Kakaknya sangat histeris mendengar kabar dari rumahsakit bahwa kedua orangtuanya telah tiada, namun hanya dirinya dan adiknya yang selamat. Shina bangun dari tempat tidurnya, dan melepaskan oksigen dan infusnya. Shina pergi keluar melihat diluar rumah sakit. "Shina.. eh dimana Shina" Aima pergi keluar mencari Shina, setiba ditaman dekat rumah sakit, Shina sedang duduk sendirian. "Shina, sedang apa kamu disini, kamu belum boleh keluar dari kamarmu, ayo kita pergi dari sini, perawat sudah menunggumu untuk memeriksamu" "tidak mau" "lho kenapa tidak mau, ayo kamu harus diperiksa" "kakak, dimana ibu? " "ibu.. ibu.. oh iya ibu ada dirumah" "kenapa ibu tidak kesini? Kenapa harus kakak yang menjagaku? aku tidak suka kakak yang menjagaku" Shina pergi meninggalkan kakaknya. Aima kaget mendengar omongan yang keluar dari mulut adiknya, adiknya masih tidak menyukainya, ia tidak ingin semakin dibenci oleh adiknya karena orangtuanya telah meninggal , ia tidak tau harus bagaimana. ***
Todos os Direitos Reservados
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • Aksara Lingga
  • TIME will TELL {On Going}
  • Suara Yang Tak Pernah Di Dengar
  • Cerita yang Tak Selesai ✨💔🌙 || TAMAT
  • Jovanka dan Abang Kembar
  • 𝙄𝙧𝙧𝙚𝙥𝙡𝙖𝙘𝙚𝙖𝙗𝙡𝙚 - Sehun x Yoona ✔️
  • (End) Athanasia Wagner 2 : Seven Lights
  • 27 FEBRUARI
  • KARAFERNELIA

"masa iya anak SMA ngacak - ngacak pikiran gue?" ..... "Tolong saya sekali lagi dong pak, penguntit gila itu masih ngikutin saya. Please pak" tangannya mengatup dengan memohon agar pria itu membantunya lagi. "Oke! Sini ikut saya" Pria dewasa itu menyambar baju panjang dan lengan Lingga. memepetkannya di tembok dekat ruang ganti. "Kamu diam ikuti saya" katanya dengan tegas. .... Hani menengokkan kepalanya setelah melihat pria didepannya bersemangat melempar bola basket kedalam ring di timezone. kini ia mendapati kawannya, Lingga ternganga pada pria yang akhir - akhir ini mengisi kekosongan hidupnya. serta gadis yang berada pada ujung kanan lingga -Shenna juga terpana atas ketampanan pria brewok itu. "Gila ganteng banget anjir" Lingga masih tak mengedipkan mata dan terus memandangi. "iya woeeyy!" Hani mengiyakan. "sadar guys, umurnya 30" sedangkan Shenna yang tak dipungkiri juga merasakan hal yang sama. hanya saja dirinya sajalah yang realistis dan tetap pada batas wajar. .... "Pak Aksara Pernah dugem?" mata lingga menatap Aksara menyelidik. mencoba mencari jawaban pada manik mata miliknya. .... "Apa ayah tidak kesepian?" mobil golf melaju sedang. membawa dua penumpang, Ayah dan anak yang sudah lelah bermain golf tersebut. "rumah sebesar itu, setiap hari isinya hanya pelayan?" Lingga mengamati wajah ayahnya yang mulai keriput. entah sejak kapan garis itu muncul. mata milik ayahnya mirip sekali dengan miliknya. tidak belo dan tidak cipit. sedang. "Kenapa kamu tanya gitu?" "Ayah tampak menyedihkan" kalimat yang Lingga buat, selalu berhasil membuat ayahnya tertegun. untuk menyalahkan tak sanggup, dan membenarkan pun akan lebih menyakitkan.

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo