12.00
  • WpView
    Reads 19
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Feb 7, 2016
Senja menutup mengiringi gerak kaki melewati tanaman liar dipinggir perbukitan Sintera. Bayang-bayang lembut berjalan menutupi sinar jingga matahari sore. Bunga-bunga putih berterbangan seiring sapuan angin yang membawanya. Sesekali ia berjingkat agar dapat mencapai anakan Dandelion. Bibirnya merekah. Ia mendapatkan dandelion lalu menerbangkannya kembali. Ia terlihat kegirangan. Namun, itu hanya topeng polosnya. Ia bukanlah malaikat, ia juga bukan iblis. Ia adalah seorang gadis kecil. Ia pembunuh.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Terikat Cinta
  • KEPERGIAN SENJA
  • FORGET ME NOT
  • Tanyakan Namaku Pada Senja
  • Laut dan Senja (TAMAT)
  • Miracolous
  • LANGIT TANPA KATA
  • Masa Remaja si Penikmat Senja

Karena ingin menebus rasa bersalah yang amat besar pada istri kakaknya, Senja harus terikat perjanjian yang di buat oleh Larissa, istri Langit. Dengan mengandung bayi dari kakak angkatnya, Senja harus kehilangan semua yang ada dalam hidupnya. Termasuk kehilangan kepercayaan orang-orang di sekitarnya. Tanpa di ketahui oleh Langit, Larissa yang di nyatakan tidak bisa mengandung, memaksa Senja untuk menjadi ibu pengganti bagi calon bayinya. Awalnya, semua berjalan sesuai rencana. Tapi, ternyata... Senja di paksa harus merelakan bayi dalam kandungannya saat Larissa di nyatakan hamil. Sanggupkah Senja merelakan bayinya, setelah orang-orang membencinya serta kehilangan orang yang di cintainya? Haruskah Senja menjadi penjahat untuk anaknya sendiri? Terlebih, Langit begitu membenci dirinya atas ketidaktahuan pria itu! Langit tidak perlu tahu betapa besar perasaan Senja terhadap pria itu. Seperti Senja di sore hari, meski hanya sebentar-bukankah biasnya yang indah kerap menghiasi Langit? Meski ia harus rela di telan kegelapan malam, bukankah keindahan Senja pernah membias cakrawala. Meski sebentar, Langit selalu menjadi tujuan Senja. Begitupun cinta Senja untuk pria itu.

More details
WpActionLinkContent Guidelines