365 Days of Amara
Amara Allesandra Mauren (Mara) adalah mahasiswi mandiri dan lembut yang rela kuliah jauh-jauh ke University of Basel, Swiss, demi menghindari rencana perjodohan orang tuanya sejak masa SMA. Setelah dua tahun, orang tuanya meminta Mara pulang untuk melanjutkan kuliah di Indonesia. Sebagai anak yang dasarnya penurut, Mara pulang tanpa curiga.
Di Indonesia, Mara langsung dihadapkan pada kenyataan bahwa ia akan dijodohkan kembali dengan Ziodeano Kafael Austhine (Zio), anak kedua keluarga Wicaksono yang mandiri dan sukses membangun bisnis kafe sendiri dari nol. Zio terpaksa menerima karena ancaman keras dari papanya.
Di malam pertemuan besar kedua keluarga setelah 10 tahun kedua orang tua mereka berpisah, Mara berencana kabur dari acara perjamuan demi mempertahankan prinsip dan kebebasannya. Rencana kabur Mara gagal total. Ia justru terjebak dalam situasi salah paham atau skandal malam itu bersama Zio. Demi menjaga martabat kedua keluarga besar, mereka dipaksa langsung menikah.
Selang beberapa hari, pernikahan berlangsung sangat meriah dan megah di mata publik. Mara yang lembut mencoba ikhlas dan berniat mulai membuka hatinya untuk mengabdi kepada Zio sebagai suami. Di hari pertama mereka pindah ke rumah bersama, sifat jutek dan dingin Zio langsung memuncak. Zio menyodorkan Surat Perjanjian Pernikahan berisi kesepakatan cerai dalam waktu satu tahun. Zio mengaku secara jujur bahwa ia sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya selama 6 tahun terakhir. Pernikahan ini baginya hanyalah formalitas sesaat demi meredam ancaman papanya.
Meski hatinya hancur seketika, sisi mandiri dan prinsip kepatuhan Mara bangkit. Ia dengan tegas merobek atau menolak menandatangani perjanjian tersebut. Mara memilih bertahan, menghadapi sifat temperamen Zio, dan membuktikan baktinya sebagai istri sah, memulai perang dingin yang emosional di bawah satu atap.