Story cover for Terima Kasih by ResiAPL
Terima Kasih
  • WpView
    Reads 52,666
  • WpVote
    Votes 2,099
  • WpPart
    Parts 20
  • WpHistory
    Time 1h 59m
  • WpView
    Reads 52,666
  • WpVote
    Votes 2,099
  • WpPart
    Parts 20
  • WpHistory
    Time 1h 59m
Ongoing, First published Feb 14, 2016
Terima kasih, ya kata pertama yang selalu aku panjatkan kepada Tuhan dan kata yang selalu terlintas di otakku disaat aku bersamanya. Meski dia berbeda dengan yang dulu namun perasaan ku  padanya tetap sama, meski rasa gengsi selalu menyelimuti ku. Aku mau hubungan dulu itu kembali.
  Dia selalu memberikan perhatian dan kasih sayang yang hanya bisa aku rasakan dari dia, aku percaya jika aku memang ditakdirkan bersamanya dia akan kembali kepada ku dan aku akan bersama dia hingga maut yang memisahkan kita Aliando Tieflasyah Pratama.
  ==
  Seharusnya dulu aku tidak pergi agar aku selalu bersama wanita yang aku sangat cintai. Disaat aku kembali semuanya berubah, dia berubah apa mugkin dia melupakan semua kenangan aku bersamanya. Aku kembali ingin memperbaiki semuanya namun disaat aku melihat kamu seperti ini sifat gengsi timbul di dalam diriku namun percayalah rasa kasih sayang aku hanya kepadamu Prilly Latiefisyah.
All Rights Reserved
Sign up to add Terima Kasih to your library and receive updates
or
#20kaia
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 10
ATTENTION cover
Eye Want U cover
loveholic cover
[C] PENGORBANAN PAPA JINNIE + KSJ cover
PROTECT MY AGASSI cover
Swan in love <H.S> cover
Bestfriend In Love cover
𝐑𝐚𝐡𝐬𝐢𝐚 𝐓𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐑𝐚𝐲𝐪𝐚𝐥 ∆ 𝐂 cover
Eyes Contact [Jefri Nichol] cover
Shall We? : Ketos Tempramental | RUPHA cover

ATTENTION

17 parts Complete Mature

Ditempat ku berasal, kamu tidak akan punya belas kasihan, bahkan aku tidak mendengar kata itu. Sebagai anak yang dibesarkan dari seorang wanita yang hidup dikelilingi ratusan bahkan ribuan lelaki, ku terlalu banyak melihat banyak kejadian. Berpindah dari satu tempat menuju tempat lainnya untuk hal yang disebut bertahan hidup, tapi menurut ku ini adalah pelarian dari organisasi illegal yang ibu ku geluti. Ya, setidaknya begitulah aku menyebutnya sampai dia menyirami aspal yang hitam menjadi merah hingga tetes terakhir mencurat dari lehernya, usai perkelahian panjang dengan seorang teman lama.