Tumbuh Bersama Ayah

Tumbuh Bersama Ayah

  • WpView
    Reads 1,887
  • WpVote
    Votes 49
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Oct 5, 2016
"Kamu adalah laki-laki, maka kamu harus tumbuh sebagaimana laki-laki." "Laki-laki sejati bukan berarti tidak pernah menangis. Tidak haram jika laki-laki menangis. Tapi, laki-laki sejati tahu kapan air matanya harus tumpah. Tahu kapan ia harus menangis. Kamu boleh menangis jika itu dianggap sebagai penyelesaian atas masalahmu! tapi lelaki sejati tidak pernah menangis karena masalah. Seberat apapun masalah, hadapilah! Bukan ditangisi. Laki-laki harus berani mengambil risiko. Apapun itu. Air mata laki-laki adalah kejujuran. Jika kamu menangis karena masalah, itu artinya kamu sangat lemah. Jangan pernah menangis karena masalah. Hadapi saja! Dan ingat satu hal yang paling penting bahwa laki-laki sejati tidak akan pernah membiarkan orang yang dia cintai menangis bersedih apalagi membuatnya menangis. Jika itu terjadi, maka jangan pernah mengatakan dirimu sebagai lelaki sejati. Ingatlah itu!" Itu adalah sebagian nasihat Ayah saat kami sedang menikmati waktu berdua saja dengannya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • KENANGAN & TRAUMA [END]
  • Monochrome! [END]
  • ALBARA - (Jatuh Cinta Itu Lucu)
  • ANGEL (END)
  • Apilo✔
  • AIR MATA AWAN || YU JUNWON
  • DENDAM LANGIT JELAGA
  • Waktu?
  • kita dan waktu. [End]

Book 2 Memilih untuk menjaga jarak bukan berarti hati ini tak pernah jatuh. Memilih untuk tidak berpacaran bukan berarti aku tak mengenal rasa suka atau cinta. Hanya saja, aku memilih untuk tak membiarkan pikiran ini larut dalam hal-hal semacam itu. Ketika banyak teman-temanku di luar sana memilih menjalani kisah cinta, aku lebih memilih menjaga diri dari hubungan seperti itu. Bukan karena hatiku tak pernah terpaut pada lawan jenis, tetapi karena luka yang ku tanggung terlalu dalam. Trauma ini mengajarkanku untuk menjauh-menjauh dari laki-laki yang memberikan harapan hanya untuk kemudian meremukkannya. Mungkin ada laki-laki di luar sana yang mampu menyembuhkan luka ini, menghapus jejak trauma yang mengikatku. Tapi, akankah dia benar-benar ada?

More details
WpActionLinkContent Guidelines