HURT
  • WpView
    Reads 16,864
  • WpVote
    Votes 802
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Feb 28, 2016
Cerita ini sequel dari cerita Glaza&Glaniel. Dimana Glaza dan Glaniel akan menjalankan masa-masa rumit. Hubungan mereka yang hampir kacau. Bahkan sampai Glaza dan Glaniel saling ingin menyerah. Namun, kekuatan cinta menguatkan keduanya. Membuat pelangi yang lama memudar kembali terang. Membuat hujan yang tadinya deras menjadi rintikan kecil yang indah. Semua karena Cinta yang mengubah segalanya. Cerita ini tidak di Private. Tapi! No copas! Ini hasil murni fikiran aku sendiri. Kalo ada kesamaan cerita itu hanya kebetulan aja. Thank you♥
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Xagala
  • Cintaku Berawal Dari Sepatu Terbang  ( Bara )
  • Nice to meet you ☂️|| Mingning | END
  • This City
  • KESAYANGAN RAKHA
  • Cinta Terpendam Sahabat
  • False Hopes
  • Glaza & Glaniel
Xagala

Sosok yang tampaknya lahir ke dunia hanya untuk menghancurkan apa pun yang ia sentuh. Xakia tidak pernah bisa melupakan bagaimana tatapan mata itu berubah menjadi sesuatu yang lebih mengerikan pada malam jembatan. Bagaimana ia hampir kehilangan segalanya. Dan bagaimana semuanya berakhir dengan satu pukulan keras satu hantaman yang membungkam monster itu. Gala, pria yang muncul entah dari mana, adalah sosok yang penuh misteri. Setelah malam itu, Xakia mulai melihatnya lebih sering. Selalu di tempat-tempat yang tidak seharusnya ia ada. Selalu dalam situasi yang tidak bisa dijelaskan. Seolah-olah ia adalah bayangan yang mengikuti Xakia, seseorang yang tahu lebih banyak dari yang seharusnya. Sekarang, di bawah hujan yang mengguyur tanpa henti, mereka kembali bertemu. Xakia menatap Gala dengan mata yang penuh pertanyaan. "Kenapa kau selalu muncul? Apa yang kau inginkan dariku?" Gala menghela napas, menyapu rambut basahnya ke belakang. "Aku tidak menginginkan apa pun." Suaranya tenang, tapi ada sesuatu di baliknya sesuatu yang tidak Xakia mengerti. "Lalu kenapa kau memukulnya?" Xakia menatap tubuh yang tak bergerak di tanah, darahnya bercampur air hujan, mengalir menuju lubang drainase di pinggir jalan. Gala tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap tubuh itu sejenak, lalu berbalik menghadap Xakia. "Karena jika aku tidak melakukannya, kau tidak akan pernah bisa lari." Ketegangan di antara mereka begitu pekat, seolah udara sendiri menahan napas. Lalu, sirene polisi mulai terdengar di kejauhan. Lampu merah dan biru berpendar di balik rintik hujan. Gala menatap Xakia dalam-dalam. "Kita harus pergi. Sekarang." Dan tanpa menunggu jawaban, ia menarik tangan Xakia, membawa gadis itu pergi dari malam yang akan mengubah hidup mereka selamanya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines