Story cover for TTM (Teman Tapi Mesra) by AkmalHafiz014
TTM (Teman Tapi Mesra)
  • WpView
    Reads 1,089
  • WpVote
    Votes 18
  • WpPart
    Parts 7
  • WpView
    Reads 1,089
  • WpVote
    Votes 18
  • WpPart
    Parts 7
Ongoing, First published Feb 18, 2016
Seperti hari-hari biasa, ku ke sekolah dengan berjalan kaki. Dengan cuaca yang panas terik, ku hadapinya dengan tabah. Tetapi pada hari ini, ku dikejutkan dengan pelajar perempuan yang agak jelita rupanya  yang baru berpindah ke kelas ku. Nama nya ialah Nur Lailatul Jannah.
Pelajar baru itu ditempatkan di bersebelahan tempat duduk ku. Pada mulanya ku hanya menunggu sapaan beliau. Lama kelamaan sapaan yang ku harapkan tidak di dengar. Aku mula rasa kan yang beliau bersikap sombong. Aku mula menyapa beliau dengan bertanya kan serba sedikit tentang perihal beliau. Ku berasa sedikit malu kerana soalan yang ditanya kan ku tidak dijawab.
Pernah juga ku mengintai nya semasa rehat. Dia membawa bekal, ternyata sekali beliau belum mempunyai teman di sekolah ini. Ku terfikir bagaimanakah jika ku ditempat nya. Huh...sungguh perit. Aku berniat untuk menjadi teman nya.
Pada suatu hari, cikgu bahasa melayu menyuruh menyalin nota yang telah ditulis oleh nya di pada papan putih. Aku terus memegang pen
All Rights Reserved
Sign up to add TTM (Teman Tapi Mesra) to your library and receive updates
or
Content Guidelines
You may also like
"Bisikan Senior di Lorong Sunyi" by apriani200
22 parts Ongoing
Namaku Amira, tapi aku lebih suka dipanggil Mira. Aku baru saja menginjakkan kaki sebagai mahasiswa baru di sebuah fakultas yang terkenal-atau lebih tepatnya, ditakuti-karena senioritasnya yang begitu kuat dan tak kenal ampun. Aku pikir setelah melewati masa PKKMB yang melelahkan itu, hidupku akan mulai berjalan normal, seperti yang kudengar dari cerita teman-teman. Tapi aku salah. Sangat salah. Keesokan harinya, saat pelajaran baru saja selesai, kami dipanggil oleh para senior. Pertemuan pertama berlangsung di dekat kolam perpustakaan yang rindang, tempat yang seharusnya menenangkan, tapi malah membuat dada ini berdebar tak karuan. Suasana terasa tenang, tapi mataku menangkap ada sesuatu yang tak biasa-sebuah bayang gelap yang mengintip di balik senyum mereka. Hari-hari berlalu, dan tempat pertemuan kami bergeser ke lorong yang sunyi dan gelap. Lorong itu seperti ruang antara dunia nyata dan mimpi buruk. Bau lembap yang tajam menusuk hidung, nyamuk beterbangan seperti bayangan yang tak pernah lelah mengawasi, dan lampu remang yang membuat setiap bayangan jadi dua kali lebih menyeramkan. Setiap kali kami dikumpulkan di situ, aku merasa seolah-olah ada mata yang mengintai dari kegelapan, membidik dan menilai. Bisikan-bisikan samar para senior, tatapan dingin yang menusuk tulang, membuatku bertanya dalam hati: apakah ini benar-benar untuk melatih mental, atau sesuatu yang jauh lebih gelap? Aku, yang tubuhnya lemah dan sering sakit, merasa terjebak di tengah tekanan yang menyesakkan. Di antara teman-temanku-Ani yang pendiam tapi kuat, Aini yang selalu cemas, Olifia yang berusaha tegar, dan Ratih yang tak pernah berhenti berharap-kami saling menggenggam tangan dan hati, mencoba menguatkan satu sama lain. "Tapi aku tahu, bisakah kami bertahan?" Bisakah kami tetap berdiri tegak saat bayang-bayang senior terus membayangi dan bisikan itu berubah menjadi ancaman? Atau akan kah kisah kami berakhir di lorong sunyi itu, di mana keberanian diuji dan ketakutan menjadi penguasa?
Satu Sekolah Tiga Sahabat by zikramawlida_
13 parts Complete
Follow dulu sebelum baca!! Kisah kehidupan tiga sahabat yang penuh lika - liku yang di pertemukan di satu sekolah. Mereka melewati hari - hari yang kadang menyenangkan atau bisa jadi menyedihkan secara bersama - sama. Tapi mereka tetap memegang tali persahabatan mereka dengan sangat kuat walaupun masalah - masalah terus berdatangan pada mereka tapi semuanya bisa mereka lalui dengan hati yang kuat. Itulah yang dinamakan sebagai sahabat sejati. Tidak ada kata perpisahan walaupun masalah besar menghadang. Baca terus cerita nya dari awal sampai akhir, jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak. Makasih. Info penting.... Hai semua aku cuman mau kasih tau kekalian kalau cerita tiga sahabat ada dua atau sekarang yang sudah berganti nama menjâdi satu sekolah tiga sahabat jadi kalian jangan terheran - heran kalau misalnya ceritanya ada dua jadi cerita yang lagi kalian baca ini adalah cerita yang asli. Jadi ceritanya, wattpat aku yang cerita yang mungkin kalian udah pernah baca kata sandinya aku udah lupa jadi makanya aku buat wattpat yang baru dan mulai lagi dari awal cerita tiga sahabat satu sekolahnya dan sekarang udah aku ganti judulnya menjadi satu sekolah tiga sahabat cuman dibalik aja kata - katanya. Aku mohon dari kalian tinggalin cerita yang tiga sahabat satu sekolah yang di akun lain karena akun nya udah gak kepake lagi kan sayang jadinya. Aku lihat udah 6 ribu orang yang baca jadi mulai sekarang tinggalkan cerita yang itu dan beralih ke cerita yang diakun ini.
Effort 2 [ Completed ] by deynaraa
16 parts Complete
Lanjutan Effort! Dan sisanya pindah ke karyakarsa Wajib baca yang sebelumnya. Tapi kalau mau langsung baca terpisah, boleh. Hati - hati pusing saat baca cerita ini. Tolong ambil baiknya, dan buang buruknya. Jika tidak ada baiknya, cukup jadikan hiburan saja. Jangan lupa follow akun ku, ya. Permasalahan yang mereka pikir sudah selesai, pada kenyataannya belum sepenuhnya selesai. Kini perlahan pasti, permasalahan yang baru, mulai menghampiri dan kemungkinan memiliki sangkut paut dengan permasalahan yang sebelumnya. Akan ada fakta-fakta lainnya yang akan mengejutkan untuk mereka. Tak hanya permasalahan keluarga saja, melainkan masalah percintaan mereka yang tidak berjalan dengan mulus. Adanya beberapa konflik yang menghampiri. ----- "Sayang, aku ada salah? Aku minta maaf, ya." ucap Bagas lembut melihat ke arah Claire "Kamu ngapain sama Tasya? Mana pakai acara pegangan tangan segala." cemburunya, "ada hubungan apa?" tanya melihat ke arah Bagas Deg Claire lihat*batinnya. "Aku gak ada hubungan apa-apa sama dia, sayang." ucap Bagas serius, "kamu lihat? Kamu bolos pelajaran?" Claire diam tanpa minat menjawab pertanyaan dari Bagas. Lalu dirinya kembali menatap lurus ke arah depan. "Cla, aku jujur. Aku benaran gak ada hubungan apa-apa sama dia." "Ada pun gue juga gak perduli." ucapnya dingin tanpa melihat Bagas. "Kita cuma pacaran, belum tentu juga bakal lanjut ke hubungan serius." lanjutnya dengan perasaan sesak "Claire...." lirih Bagas melirik kearah Claire dengan perasaan sesaknya. "Gue gak suka di duain, terlebih sama musuh gue sendiri." ucap Claire dingin namun dengan perasaan sesaknya. ------ 18+ Cerita seru, menarik, penuh akan plottwist, alur gak ketebak dan badas. Start : 22 may 22 End : 22 okt 22
You may also like
Slide 1 of 9
"Bisikan Senior di Lorong Sunyi" cover
Kelas A [End] cover
Satu Sekolah Tiga Sahabat cover
PESAN UNTUK RAYAN cover
First Love [Proses Editing] cover
3 IN ONE cover
Effort 2 [ Completed ] cover
Kizu cover
Diary Of Rain [END] cover

"Bisikan Senior di Lorong Sunyi"

22 parts Ongoing

Namaku Amira, tapi aku lebih suka dipanggil Mira. Aku baru saja menginjakkan kaki sebagai mahasiswa baru di sebuah fakultas yang terkenal-atau lebih tepatnya, ditakuti-karena senioritasnya yang begitu kuat dan tak kenal ampun. Aku pikir setelah melewati masa PKKMB yang melelahkan itu, hidupku akan mulai berjalan normal, seperti yang kudengar dari cerita teman-teman. Tapi aku salah. Sangat salah. Keesokan harinya, saat pelajaran baru saja selesai, kami dipanggil oleh para senior. Pertemuan pertama berlangsung di dekat kolam perpustakaan yang rindang, tempat yang seharusnya menenangkan, tapi malah membuat dada ini berdebar tak karuan. Suasana terasa tenang, tapi mataku menangkap ada sesuatu yang tak biasa-sebuah bayang gelap yang mengintip di balik senyum mereka. Hari-hari berlalu, dan tempat pertemuan kami bergeser ke lorong yang sunyi dan gelap. Lorong itu seperti ruang antara dunia nyata dan mimpi buruk. Bau lembap yang tajam menusuk hidung, nyamuk beterbangan seperti bayangan yang tak pernah lelah mengawasi, dan lampu remang yang membuat setiap bayangan jadi dua kali lebih menyeramkan. Setiap kali kami dikumpulkan di situ, aku merasa seolah-olah ada mata yang mengintai dari kegelapan, membidik dan menilai. Bisikan-bisikan samar para senior, tatapan dingin yang menusuk tulang, membuatku bertanya dalam hati: apakah ini benar-benar untuk melatih mental, atau sesuatu yang jauh lebih gelap? Aku, yang tubuhnya lemah dan sering sakit, merasa terjebak di tengah tekanan yang menyesakkan. Di antara teman-temanku-Ani yang pendiam tapi kuat, Aini yang selalu cemas, Olifia yang berusaha tegar, dan Ratih yang tak pernah berhenti berharap-kami saling menggenggam tangan dan hati, mencoba menguatkan satu sama lain. "Tapi aku tahu, bisakah kami bertahan?" Bisakah kami tetap berdiri tegak saat bayang-bayang senior terus membayangi dan bisikan itu berubah menjadi ancaman? Atau akan kah kisah kami berakhir di lorong sunyi itu, di mana keberanian diuji dan ketakutan menjadi penguasa?