1OkNite.com

1OkNite.com

  • WpView
    Reads 727
  • WpVote
    Votes 31
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jul 3, 2017
"pacar ? seleraku bukan orang sepertimu ! lagipula aku sudah punya pacar kok !" Yahh, itu yang selalu kukatakan jika ada pria yang mencoba mendekatiku. Aku tak pernah merasa satu pun dari mereka cocok untuk menjadi pasanganku. Terlalu hitam Terlalu putih Terlalu pendek Terlalu gemuk Terlalu kurus Kalian pasti berpikir aku ini pemilih. Memang aku pemilih, oh bukan, ralat,aku sangaaat pemilih. Usiaku sudah menginjak 21 tahun dan aku masih belum pernah berpacaran sekali pun. Ya, benar ! aku serius saat berkata TAK PERNAH SEKALI PUN. Tapi untuk menjaga harga diri di depan teman-temanku, aku berpura-pura sudah punya pacar.awalnya mereka percaya jika pacarku adalah seorang blasteran tampan yang sibuk sehingga tak bisa sering menemuiku tapi lama-lama mereka curiga. Aku sih senang-senang saja sendiri tanpa pacar dan berakting didepan mereka seolah aku bukan jomblo. hingga suatu hari, aku diharuskan untuk membawa pasangan ke sebuah reuni dan aku tak dapat mengelak lagi sekeras apa pun usahaku.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Brothers
  • My Wedding Story
  • When A Girl Looks Like Boy[EXO FANFICTION]
  • Crazy Marriage
  • girlfriend vs football
  • M E M O R Y  (On Going)
  • Home (Completed) (Repost)
  • Informed Consent
  • My Life
  • chiki balls favorit
Brothers

"Kay! Pikirin lagi deh ide gila lo ini! Masa gue sama Ray harus pake seragam begituan. Lo sih enak masih pakai seragam Ray. Gue dan Ray gimana?" Aku dan kedua saudara kembarku sedang berdiskusi di kamarku. Ini pernah dilakukan seminggu yang lalu saat Kay mengatakan ide gilanya kepadaku dan Ray. "Gak bisa Fay! Kan udah kesepakatan." Kay itu keras kepala. Mungkin karena merasa lahir lebih dulu, jadi dia selalu ingin menang sendiri. "Tapi kan lo bisa tukeran sama Ray tanpa harus melibatkan gue Kay!" aku protes sedangkan Ray diam saja. Dia benar-benar lamban. Sampai-sampai perempuan yang mendekatinya saja dia tidak menyadarinya. Itu karena kelambanan otak berpikirnya. "Gak bisa Fay sayoong! Ray itu gak bisa basket. Dia itu atlet renang. Jadi selama dia sekolah di tempat gue nanti, dia bakalan kalah terus kalau tanding sama yang lain. Bisa-bisa reputasi gue hancur gara-gara permainan basketnya yang parah." Aku tahu Ray memang tidak suka berlari, karena itu dia tidak suka bermain basket denganku dan Kay. Kalau kita bertiga sedang bermain bersama, Ray lebih memilih menonton aku dan Kay yang sibuk mencuri bola drible. "Lagipula kesepakatan terakhir itu mutlak setelah kita mengundinya. Jadi ini gak bisa diganggu gugat lagi. Besok kita mulai penyamaran. Gue jadi Ray, lo Fay jadi gue, dan Ray jadi lo Fay." Kay sudah memulai sikap otoriternya. Kalau sudah begini, aku dan Ray hanya bisa pasrah. Semoga Ayah dan Bunda tidak menyadarinya. Ayah mungkin tidak akan menyadarinya tapi Bunda sepertinya harus diwaspadai.

More details
WpActionLinkContent Guidelines