LIKE A DREAM LIKE A PRISON

LIKE A DREAM LIKE A PRISON

  • WpView
    Reads 480
  • WpVote
    Votes 67
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Mar 11, 2016
Pernahkah kau mempunyai mimpi yang amat tinggi? Yang pada akhirnya kau tak percaya kau telah memimpikannya? Pernahkah kau kehilangan peluang untuk mewujudkannya? Pernahkah kau berharap agar waktu dapat diputar kembali? Jika kau bertanya padaku, maka hanya satu jawabanku "aku menyesal telah bermimpi." Ceritaku dimulai pada hari yang dingin sebelas tahun yang lalu, pada saat itu aku kelas 3 sma di kota LV yang sangat terkenal dengan minuman keras, judi, dan serta karya seni yang tinggi, terutama seni tari. Salju bertebaran dimana" , kondisi tubuhku tidak maksimal karena terlalu kurus, aku memang tidak boleh gendut, mengapa? Karena ntar aku nggak bisa mengangkat tubuhku tinggi" Sambil bersimbah air liur aku melihat anak kecil sedang makan es krim di pojok cafe dengan amat nikmatnya, kuhampiri anak itu lalu aku berkata padanya "dek, nggak ngilu tuh? Makan es krim saat cuaca seperti ini?" Dia pun berkata padaku "apapun rasanya bukan urusanmu" Ingin kutendang rasanya..
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Bawa Aku Pulang (End)
  • jung Ssaem VS Detektif Penggoda
  • Arsyilazka
  • IGNITES (END)
  • Dreamer
  • East sky first love
  • MAHESWARI  (selesai)
  • C I N (T) A (COMPLETE)
  • A Bittersweet farewell  ( Sudah Lengkap Mari Di Baca)
  • Rindu Senin Pagi

By a True Story Tentang dua anak muda yang menghabiskan waktunya bersama di masa putih abu-abu. -- Ponselku bergetar. Layarnya menyala terang. Nama Widya muncul di sana. "Za. Belum tidur?" Tanyanya dalam pesan itu. Aku melirik jam yang terdapat di sudut kanan atas layar ponsel, mendapati kini sudah jam dua pagi. "Belum, kenapa, Wid?" Aku bertanya balik. "Temenin gue teleponan dong! Gue enggak bisa tidur, nih." Sebenarnya, walau berada di kamar, aku sedang sibuk bekerja dengan komputerku. Namun, sejak mengenalnya delapan tahun lalu, aku selalu saja tidak bisa menolak permintaannya. "Oke." Balasku singkat sebelum akhirnya ponselku berbunyi, ada telepon masuk darinya. "Masih kerja?" Terdengar suaranya di sebrang sana. "Udah selesai, kok." Aku terpaksa berbohong. Padahal, aku mengesampingkan pekerjaanku untuknya. "Kenapa? Kok susah tidur? Emangnya mikirin apaan?" "Enggak tau, nih. Akhir-akhir ini, rasanya susah banget tidur cepet." "Lu kebanyakan tidur siang kali? "Bisa jadi, sih. Soalnya gue tidur bangunnya agak siang. Hahaha. Omong-omong, gue ganggu, enggak?" "Ganggu? Enggak, kok." "Emang lu lagi di mana, Za?" Tanyanya. "Di kulkas." "Hahaha." Ia tertawa. Aku selalu suka mendengar tawanya. "Serius ih! Lu lagi di mana?" "Di rumah, Wid. Kenapa, sih?" "Gapapa, nanya aja." Balasnya. "Oh iya, selain kerja, lu sibuk apa lagi deh akhir-akhir ini, Za?" Tanyanya padaku. Entah apa jawabanku atas pertanyaan itu. Yang jelas, aku bicara dengannya cukup lama. Mulai dari membicarakan soal kesibukan selain pekerjaan, sampai akhirnya membicarakan masa-masa SMA, dulu. Iya, Widya adalah temanku saat masih SMA. Aku mengenalnya sejak delapan tahun lalu. Aku ingat bagaimana aku mulai mengenalnya waktu itu.

More details
WpActionLinkContent Guidelines