Enchanted
  • WpView
    Reads 401
  • WpVote
    Votes 13
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jun 23, 2016
WpInfo
Fiction
Romance
Kesempatan itu hilang seiring orang itu pergi. Diam, ku tak tau harus bagaimana ketika setengah jiwaku, terhalang bersatu dengan setengah jiwaku yang lain. Tembok penghalang begitu tinggi, bahkan untuk melihat ujungnya, aku dan orang itu tak bisa. Kami sama-sama dibutakan dengan jarak tembok yang tak ternilai jauhnya. Kepercayaan adalah tembok itu. Kepercayaan yang berbeda, yang sudah dipeluk masing-masing daripada aku dan orang itu. Berharap suatu hari nanti tiba saatnya, tembok itu hancur dengan kekuatan cinta yang tumbuh diantara kami selama 7 tahun lamanya. Sedih, ternyata itu tak cukup kuat, sebaliknya, tiba saatnya hari dimana tembok itu berultimatum untuk berada di sana selamanya. Disitulah kami menyerah diantara keinginan untuk terus berusaha. Dan disitulah, aku bertemu kamu. Seseorang yang mungkin tak sengaja lewat di hidupku, atau seharusnya ada? Kamu, dengan sejuta cara untuk membuka kembali jiwaku yang masih mencari setengah daripada dirinya, mencoba segala cara menjadi setengah jiwaku yang lain. Aku tak menolak, tetapi tak ingin berpura-pura, tetapi percayalah, esok, jika keinginan membuka hati sudah datang.. Aku ingin jatuh hati pada caramu berpikir, pada caramu meramu hari depan, bukan sekedar pengertian-pengertian yang tanpa diingatkan pun aku pasti melakukannya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Senja Yang Tak Kembali
  • You're Here, But Not For Me
  • A high wall for us
  • Ketika Tulisan bercerita?
  • SELEPAS KAU PERGI (COMPLETED)
  • Antara Jarak Dan Waktu
  • Senja merindu fajar
  • Full Of Scratches
  • STAR'SMOON

Senja selalu punya cara untuk mengingatkanku padanya. Pada warna jingga yang memudar perlahan, pada langit yang semakin gelap, dan pada perasaan yang tak pernah benar-benar pergi. Aku masih mengingatnya dengan jelas- hari pertama aku melihatnya, tawa kecilnya yang ringan, dan caranya berbicara seolah dunia ini adalah tempat yang penuh keajaiban. Aku juga masih ingat saat aku akhirnya mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaanku, hanya untuk mendengar jawaban yang sudah kutakutkan sejak awal. "Aku nggak bisa, Rak... Maaf." Kalimat itü terus terulang di kepalaku, seperti kaset rusak yang tak bisa kuhentikan. Tapi anehnya, aku tetap di sini. Aku tetap bertahan. Mungkin ini bodoh. Mungkin aku hanya menggenggam sesuatu yang seharusnya kulepaskan sejak lama. Tapi, bagaimana caranya melepaskan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari diri sendiri? Senja yang pernah menyatukan kami kini menjadi saksi bahwa beberapa hal memang tidak bisa kembali seperti dulu. Namun, meski tak bisa kumiliki, aku masih menyimpan perasaan ini. Bukan untuk berharap, bukan untuk menunggu, tetapi sekadar untuk mengenang bahwa aku pernah mencintai seseorang dengan seluruh hatiku. Dan itu sudah cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines