Clara
  • WpView
    Reads 2,716
  • WpVote
    Votes 340
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, May 9, 2017
Kau pergi tanpa pamit. Tentu awalnya aku sudah menaruh curiga saat kau hanya diam menatapku. Tapi segera kutepis semua prasangka buruk itu. Apa kau tau itu menyiksa?Kalau niatmu agar jauh dariku, seharusnya kau timpuk saja aku dengan batu sampai aku lupa ingatan sampai aku lupa denganmu, lupa semuanya. Lalu saat ku tak ingat apapun kau boleh pergi. Bukankan itu cara yang lebih baik ketimbang kau hilang seolah ditelan bumi dengan meninggalkan sebuah goresan luka yang sayangnya, Permanen. -Clara Ini ceritanya banyak part karena short part.
All Rights Reserved
#2
shortpart
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • When his name is
  • It's So Hurtful [END]
  • Become an Extra or Main Character [END]
  • The Reason is You
  • Remember?
  • SELEPAS KAU PERGI (END)
  • True Life, True Love ☘︎ (𝐶𝑜𝑚𝑝𝑙𝑖𝑡𝑒𝑑)
  • [End] Ending Scene

sinopsis: "Aku milikmu, ingat itu." Aku bertemu dengannya-dan saat menatap matanya, semua luka lama terasa seperti baru kemarin. Kami bukan orang asing. Kami adalah dua jiwa yang pernah saling memiliki, lalu membuang ribuan kenangan dan mimpi seakan semuanya tak berarti. His name is Benedictus. "Dia adalah masa laluku... dan juga yang terakhir bagiku," ujar Angelz saat bicara pada Chris-teman yang selama ini diam-diam mencintainya dari kejauhan. Chris tahu, cintanya mungkin tak akan pernah terbalas. Bukan karena dia tak cukup baik, tapi karena bayangan masa lalu Angelz terlalu kuat untuk dilupakan. Lalu, ketika masa lalu dan masa kini bertabrakan, akankah Angelz tetap memilih luka yang familiar... atau cinta yang diam-diam tumbuh dengan tulus? ________________________________________ prolog: Aku lupa kapan terakhir kali memeluknya-mungkin saat langit masih tahu cara bersinar di mataku, sebelum semua berubah jadi abu-abu. Dia berdiri di depan ku sekarang, seperti mimpi buruk yang kembali mencari tempat tinggal. Tapi bukan karena aku takut... aku hanya belum siap mengingat betapa dalamnya luka yang pernah kami ciptakan bersama. Namanya Benedictus. Dan sekali lagi, dunia menuntunku ke arah yang selama ini ku coba lupakan. "Angelz," suaranya tak berubah. Aku menunduk. Karena sekuat apa pun aku menyangkal... sebagian dari diriku masih miliknya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines