Marissa Putri Wulandari
Gadis bertubuh mungil berambut hitam panjang, pintar atau jenius, manis, terlalu ceria, dan super duper hemat alias ngirit. Tapi, siapa yang menyangka gadis mungil itu atau yang sering disapa Icha selalu jatuh di tangan lelaki yang salah? Dalam percintaan, Ia terlalu bodoh untuk segalanya, hingga suatu saat Ia ingin mendedikasikan dirinya untuk tidak terlena dengan rayuan manis gombalnya.
Tapi, lagi-lagi Ia meruntuhkan dedikasinya karena seseorang.
Arsya Putra Praditama
Cowok berbadan tegap dan mejulang tinggi, yang dihiasi mata cokelat, alis tebal dan potongan rambut hitam pendek yang membuat siapa saja akan tersenyum karena ketampanannya ditambah belum pernah memiliki pacar sejak lahir, hingga beranjak SMA.
Apa jadinya, jika mereka sudah ditakdirkan bersama lewat sepotong kenangan masa lalu?
Dan jika mereka bersama..
Akan kah waktu dua minggu mengenal satu sama lain dapat membangun suatu hubungan yang kokoh?
"Cause we got the kind of love it takes to solve 'em"
"Yeah, I got issues"
"And one of them is how bad I need you"
(Saran, chapter awal emang agak gajelas. Masih amatiran awal2. Tapi kesananya bagus kok bagus, hehe)
He Wrote My Name Wrong
Wattpad by barelyunknown
SMA Harapan Baru katanya sekolah penuh "cinta pertama". Katanya sih.
Nyatanya? Hari pertama orientasi aja aku udah dapat partner paling nggak ramah sedunia-Raynald Ezra, si cowok tinggi berkacamata yang ngomongnya kayak dosen dan nggak pernah senyum.
Meira Anindya enggak pernah menyangka kalau hari pertamanya di SMA akan dipenuhi kejutan-terutama kejutan bernama Raynald Ezra. Cowok cuek dari kelas sebelah itu bikin Meira salah tingkah sejak insiden kecil di hari MOS. Tapi bukan SMA namanya kalau perjalanan cinta mulus-mulus aja. Mulai dari beda kelas, cewek berhijab yang selalu bareng Ray, sampai kenyataan bahwa Ray punya masa lalu yang belum sepenuhnya ia lepas.
Sementara Meira sibuk memahami perasaannya, Ray juga diam-diam menyimpan rasa-rasa yang belum pernah ia tunjukkan ke siapa pun sejak kehilangan orang terdekatnya. Satu hal yang pasti: keduanya sama-sama belum siap untuk jujur... bahkan pada diri sendiri.
Di antara tumpukan tugas, eskul, dan jantung yang deg-degan tiap ketemu di lorong sekolah, Meira dan Ray belajar satu hal: cinta pertama enggak selalu tentang kata yang sempurna, tapi tentang siapa yang bikin kamu ingin menulis ulang segalanya-termasuk nama seseorang, meski awalnya kamu salah tulis.