Dont Sing With Me

Dont Sing With Me

  • WpView
    Reads 3
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Mar 11, 2016
Hujan..... biarlah hujan yang deras. Petir sekalipun aku tak perduli. Aku hanya ingin menari, dengan hujaman air lagit yang mengguyur beku tubuh. Kendaraan melaju kencang, orang-orang di trotoar memandangku muram. Inilah duniaku tempat yang hanya aku saja yang mampu mengerti, di duniaku tiada orang yang bersuara merdu, tiada nada yang mendayu-dayu. Hanya sepi, sepi mengiring tarian langit yang aku persembahkan untukmu, semua yang menari lewat kesunyian hujan. Kurasakan sebuah tangan memegang lenganku. Aku menghentikan tarianku, menoleh kearah siempunya tangan "A-yah? " selelu seperti ini ia selalu mencegat tarianku bahkan sebelum aku mencapain bagian tengahnya. " Ayo pulang. Jangan sampai sakit" ia merangkulku, menyelimutiku dengan handuk tebal. Aku mengikutinya dengan langkah yang berat, ku pandang wajah keriput ayahku. Masih kutemui akspresi itu. Ekspresi yang sama ketika masih ada kita ber tiga, aku, ibu, dan ayah. *** Bogor sejak pagi di guyur hujan pekat. Seorang pemuda berlari.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • "ARGON" Untukmu Bidadari Hatiku
  • Surga yang Harus ku jaga
  • Rainasta
  • A Bittersweet farewell  ( Sudah Lengkap Mari Di Baca)
  • ALBARA - (Jatuh Cinta Itu Lucu)
  • Little Sister [Boboiboy Elemental]
  • si Sulung & si Bungsu
  • A. Y. T. D. A (ANAK YANG TAK DIANGGAP)
  • TIME will TELL {On Going}
  • Cause We are Family

semua kisahku bermula saat pertama engkau hadir dihadapan mataku. wajah itu tak pernah hilang dari bayangan anganku. selalu menghanyut senyummu dalam kalbuku. semua kisah puisi hanya menggambarkan tentang keindahan dirimu. tak pernah bosan tanganku menulis untukmu. tak pernah lelah jemariku melukiskan indahnya parasmu. sinar mentari,tiupan angin,desiran rumput,kemersik daun,kicauan burung,gemercik air, bag menggambarkan pesona indah parasmu. alunan seruling bambu,senduh dentingan gitar, terus mengiringi merdu suaramu dalam relung hatiku. tak pernah lupa selalu terngiang dalam kepalaku " bang Ar!". setiap saat, setiap hari, aku berusaha selalu ada untukmu. menjagamu sekeras apa pun, membimbingmu sejauh apa pun, menuntunmu sesulit apa pun. bagai sepasang merpati yang selalu terbang beriringan, bagai sepasang kelinci yang selalu melompat bersamaan. namun, aku hanyalah akar untukmu. yang menopangmu, menjaga agar kau tetap berdiri.namun, aku hanyalah aliran air untukmu. yang menjadi wadah untukmu berenang semakin jauh. senyummu adalah bahagia untukku, namun tangismu bukanlah sedihku. karena aku harus kuat untuk membuatmu tersenyum sepanjang hari. hingga kau melantunkan suara merdumu "bang Ar!". namun, bagai dentuman guntur di siang bolong, bagai derasnya hujan di panas terik. semua berubah karena ke egoisanku. karenaku, bunga yang indah mekar kini layu dan gugur. karenaku, angin sepoi peniup melodi kini menjadi badai topan yang ganas. yang tinggal hanya dentingan pedang yang beradu, hanya desingan peluru yang memburu. saling membekas luka, menyayat sembilu dalam relung hati. menjatuhkan merpati, membinasakan kelinci, menumpahkan darah di sepanjang perjalanan yang tersisa. kini hanya ada akar tanpa pohon, air tanpa ikan, dan selembar kertas putih. kini yang terbakar hanya amarah yang mengatakan "tolong jauhi aku!".

More details
WpActionLinkContent Guidelines