Can I Trust You?

Can I Trust You?

  • WpView
    Reads 3,474
  • WpVote
    Votes 378
  • WpPart
    Parts 14
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, May 17, 2020
"Haruskah aku menunjukkannya? Haruskah kau baru mempercayai sesuatu jika itu dapat kau lihat? Lalu bagaimana dengan harapan? Kau tak bisa melihatnya tapi kau bisa mempercayainya." Suara bariton khas seorang pria telah dewasa melesak dan menembus kesunyian malam yang pekat, mengucapkan kalimat demi kalimat dengan nada yang memancarkan kepedihan. "Bukan seperti itu..." Wanita dengan manik mata berwarna biru laut yang terkena hamparan sinar matahari menatap pria itu sendu, perasaannya menyetujui namun pikirannya menuntut bukti. Pikirannya tenggelam di dalam keheningan dan masuk ke bagian dalam dirinya, memecah sesuatu yang tak bisa ia ucapkan. Wanita itu berhenti tidak melanjutkan kalimat sampai menimbulkan rasa penasaran membuncah, membiarkan pria itu bertanya-tanya.
All Rights Reserved
#4
georgie
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • FATE'S CRUEL KINSHIP (SELESAI)✅
  • Boleh Aku Gandeng Tanganmu Nanti?
  • Falling for You
  • 'cause this one means forever [COMPLETED]
  • DIKANESHA
  • BEAUTIFUL MISTAKE
  • RUANG KINANTI

"Cinta ini salah," suaranya bergetar, hampir tenggelam dalam gemuruh ombak kecil. Namun, cinta di matanya tak bisa dipadamkan. "Tapi aku tak bisa berhenti mencintaimu," jawab yang lain, dengan desahan putus asa, seperti seseorang yang sudah lama terjebak dalam dilema yang tak berujung. Mereka saling menatap, kedua hati yang dulu begitu yakin kini dipenuhi ketidakpastian. Rahasia yang mereka temukan terlalu berat untuk diterima. Setiap kenangan yang mereka ciptakan bersama kini terasa terkotori oleh satu kebenaran yang tak terhindarkan, mereka terhubung bukan hanya oleh cinta, tetapi juga oleh darah yang sama. Ibu yang selama ini mereka kira jauh dari kehidupan masing-masing, ternyata adalah satu orang yang sama. "Apa yang harus kita lakukan sekarang?" bisik salah satu dari mereka, suaranya pecah, penuh dengan ketakutan yang tak bisa disembunyikan. Yang lain terdiam, menunduk, terlalu sakit untuk menjawab. Semua rencana, semua harapan, kini terasa sia-sia. Tak ada jalan keluar dari kenyataan ini. Cinta mereka, yang dulunya penuh harapan, kini berubah menjadi beban yang tak terelakkan. Namun, meski kenyataan itu begitu pahit, perasaan di antara mereka tetap ada, mendesak untuk diakui. Bagaimana mereka bisa terus mencintai ketika darah yang sama mengalir di nadi mereka? Malam itu adalah awal dari perpisahan yang tak terelakkan. Takdir telah memisahkan mereka sebelum mereka sempat benar-benar bersama. Dalam keheningan malam, cinta mereka terbungkus oleh bayangan kelam, menyisakan hanya jejak air mata dan hati yang hancur.

More details
WpActionLinkContent Guidelines