Bintang Senja

Bintang Senja

  • WpView
    Reads 54
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Mar 17, 2016
WpInfo
Fiction
Romance
Hanya garam yang bisa memahami asin pada dirinya, ketika lainnya tak kunjung kumengerti. Begitu pula meteran yang dapat mengukur panjang, namun tak mampu mengira pengembaraan fantasiku, tentangmu. Menatap langit di hamparan pasir pantai kala itu, membiarkan kenangan kasih dalam genggam tak sampai, bertengger di jiwaku. Lelakiku, andai namaku tak terganti ... Sudah pasti aku lebih leluasa melukismu pada akar puisi ini, sebagai tanda bahwa jiwa kita pernah menjadi penghuni peti imaji. Namun, bintang senja telah menutup mimpi. Akhirnya, hanya sanggup kutulis sebait curahan hati yang tengah menggulung sepi.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Mahligai Sunyi
  • Ayo menepi dulu, sebentar saja.
  •  Mengikhlaskanmu Di Ujung Senja (PROSES REVISI)
  • Puisi 'tuk kau, Yang merindu
  • Lost in Your Mysterious Feeling [ TAMAT ]
  • Tepian Semu || Lilynn✅
  • TAK SEINDAH JINGGA
  • Lembayung

Novel "Mahligai Sunyi": Senja mulai menua di balik jendela kaca, membiaskan cahaya jingga yang merayap perlahan di sudut ruangan. Aku duduk dalam diam, menatap kosong pada cangkir teh yang tak lagi mengepul. Aroma melati yang biasa menenangkan kini terasa hambar di inderaku. Aku terjebak dalam pusaran pikiranku sendiri, menggenggam kenyataan yang pahit namun tak bisa kutolak. Aku pernah percaya bahwa cinta adalah tentang memilih satu orang, bertahan dengannya dalam segala cuaca, dalam segala luka. Namun, kini aku mengerti bahwa terkadang, cinta juga berarti kehilangan-kehilangan harapan, kehilangan rasa percaya, bahkan kehilangan diriku sendiri dalam labirin luka yang diciptakan oleh seseorang yang seharusnya menjagaku. Arion adalah cintaku, atau setidaknya pernah menjadi. Aku mempercayainya lebih dari yang seharusnya, mencintainya lebih dari yang pantas. Namun, cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga. Tidak cukup untuk menghindarkanku dari rasa sakit yang berkali-kali ia hadiahkan. Tidak cukup untuk membuatnya berhenti mencari bahagia di tempat lain. Aku telah memaafkan, berkali-kali. Aku telah memberi kesempatan, hingga tak tahu lagi batas dari kata "cukup." Tetapi, sampai kapan aku harus terus bertahan? Sampai kapan aku harus mengorbankan kebahagiaanku sendiri demi menjaga sesuatu yang terus menerus hancur? Dan di sinilah aku, berdiri di persimpangan. Antara bertahan dengan luka atau pergi dengan sisa-sisa keberanian yang kupunya. Aku tidak tahu bagaimana akhir dari kisah ini. Yang kutahu, aku hanya ingin menemukan kembali diriku yang telah lama hilang.

More details
WpActionLinkContent Guidelines