We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Better Together

Better Together

  • WpView
    Reads 51
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jul 6, 2013
WpInfo
Fiction
Romance
Satu pertemuan. Dua presensi. Tiga kepura-puraan yang mengadiksi. Dirga menginginkan tempat di mana ia bisa berlari dari perasaan yang tidak terucapkan selama bertahun-tahun pada sahabatnya sedari kecil. Ia ingin berlari. Jauh. Hingga perasaan itu hilang meredam. Hingga ia tidak perlu merasakan perasaan brengsek yang menginvasi lajur logikanya. Tetapi gadis penghuni kamar di seberang kamarnya membuat Dirga kembali mempertanyakan kewarasan otaknya. Kanaya menginginkan sebuah kebenaran dari orang yang selama ini menjadi tempatnya berdependensi. Kejujuran kadang tidak manis, ia tahu. Terutama setelah mengetahui bahwa tunangannya tidak benar-benar merasakan perasaan yang sama dengannya. Bahwa semuanya bohong. Bahwa semuanya omong kosong. Tetapi kehadiran pemuda yang menghuni kamar seberang membuatnya berpikir bahwa semua akan baik-baik saja.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Maaf (Sequel Off T.A.A.O) | SELESAI REVISI
  • KOMAR.
  • FAKE BOYFRIEND [Completed]
  • Perhatian Yang Menumbuhkan Cinta
  • When Two Hearts Collide
  • KARAFERNELIA
  • Behind The Smile

SELESAI REVISI | CERITA SELESAI | PART LENGKAP --- "Damar! Lepasin aku!" "Fabian itu siapa, hah?! Kenapa kau akrab banget sama dia?!" "Dia cuma teman, Damar! Lepasin aku!" "Cuma teman?! Kau pikir aku bodoh?!" "Da-Damar... Apa yang kau lakukan?!" Namun Damar sudah tenggelam dalam emosinya. Jemarinya merobek paksa kancing kemeja gadis itu, satu per satu kancingnya beterbangan ke lantai. "Jangan! Damar, tolong!" Air mata Chelsie mengalir, tapi tangannya tak mampu menahan dorongan kasar lelaki itu. Semua terjadi begitu cepat. Suara gesekan kain, tubuh yang meronta, air mata yang mengalir tanpa henti. Dan akhirnya... semuanya hancur. Keheningan yang menyesakkan memenuhi ruangan setelah semuanya berakhir. Nafas Damar masih terengah, tubuhnya kaku, jari-jarinya masih mencengkeram sprei yang berantakan. Baru saat itu ia sadar... apa yang baru saja ia lakukan? Di depannya, Chelsie terdiam dengan tatapan kosong. Roknya sudah tersingkap, kemejanya terbuka berantakan, dalamannya entah ke mana. Air mata terus mengalir, membasahi pipinya yang pucat. Damar menatap tangannya sendiri, seolah baru sadar bahwa jemari itulah yang telah merusak segalanya. Ia mencoba mendekat, tapi Chelsie tiba-tiba menjerit dan melempar benda apa pun yang ada di dekatnya-bantal, gelas, bahkan jam meja yang nyaris mengenai kepala Damar. "Pergi! Jangan sentuh aku! Dasar monster!" Suaranya pecah dalam raungan penuh kebencian dan luka.

More details
WpActionLinkContent Guidelines