We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Yellow King

Yellow King

  • WpView
    Reads 276
  • WpVote
    Votes 19
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Oct 12, 2016
WpInfo
Fiction
Romance
" ketika waktu tak bisa diperpanjang oleh maut ". Shelia. Janda muda ber anak satu, harus mati-matian bersabar menghadapi klien berkepribadian layaknya penguasa kota. " seandainya dia bukan Direktur utama perusahaan AG, pasti sekarang sudah aku laknat dengan sumpah serapah jaman purba." Ash. Lajang sukses yang sudah dikejar-kejar deadline untuk menikah baru saja membuang-buang waktu dan tenaga demi mencemooh perusahaan kecil milik sepupu tersayangnya. "Dasar. Jadi PM(project manager) aja lo udah belagu. Umur lo baru seumur jagung ga usah deh sok2 gak hormat sama gue." Seseorang dari masa lalu Shelia pun datang kembali. Untuk menghancurkan kehidupan Shelia yang tak sempat dia tuntaskan dulu. " tunggu pembalasan ku yang belum tuntas Shelia sayang. Kamu gak bisa ku miliki. Jadi gak akan ada orang yang bakal miliki kamu." So. Sedalam apa sih rahasia-rahasia kecil yang ternyata mengundang bahaya.
All Rights Reserved
#23
misery
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • CEYRON ALLISTAIR
  • King's Obsession (Complete)
  • ✔ Cinta Yang Aneh
  • The Dark Side(END)
  • Arga ; Repihan Rasa TAMAT (sekuel Arga; Pusaran Sesal
  • Queen Mafia & Demon
  • KEPERGIAN SENJA

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines